kisah rini yang menjadi korban Bullying di sekolah

kisah.org Kisah Rini yang menjadi korban bullying dan kekerasan di sekolah membuatnya menjadi pembunuh dengan membalas dendam atas orang yang melakukan Bullying terhadapanya.

Kisah ini bermula dari, Aroma gulai yang kental dan penuh rempah menguar dari sebuah kantin sekolah. Wangi santan, kunyit, cabai, dan berbagai bumbu lainnya bercampur menjadi satu, menggoda siapa pun yang melintas di depan meja dagangan itu.

Di balik sebuah belanga besar, seorang gadis bernama Rini berdiri sambil tersenyum.

Usianya baru 15 tahun. Ia merupakan siswi kelas 9 yang dikenal berparas cantik, berhidung mancung, dan memiliki kulit putih bersih.

Namun, ada sesuatu yang membuat penampilannya terasa berbeda.

Kulit Rini sangat pucat. Dalam cahaya tertentu, rona kulitnya bahkan tampak sedikit kehijauan, menyerupai warna daun pisang muda.

Bagi sebagian murid, wajah Rini terlihat cantik.

Bagi yang lain, wajah itu justru terasa sedikit menyeramkan.

Meski begitu, Rini adalah salah satu penjual makanan paling populer di kantin sekolah.

Ia menjual berbagai macam gulai, mulai dari gulai ayam, gulai cumi, gulai ikan, gulai usus sapi, hingga menu yang paling banyak diburu para siswa—gulai otak sapi.

“Rini! Gulai otak satu! Kuahnya banjir, otaknya yang gede!” teriak seorang siswa dari antrean.

“Siap, Dik! Otak sapi kualitas super segera meluncur!”

Rini tertawa kecil sambil mengambil sepotong bahan bertekstur lembut dari dalam kuali.

Tidak seorang pun menyadari bahwa beberapa minggu kemudian, aroma gulai dari kantin itu akan menjadi bagian dari sebuah misteri mengerikan.

 

Senyum di Balik Luka

Di balik keceriaan Rini saat berjualan, kehidupan sekolahnya sebenarnya jauh dari menyenangkan.

Hampir setiap hari, ia menjadi sasaran perundungan Merry dan Erni, dua siswi berusia 15 tahun yang dikenal berasal dari keluarga berada dan aktif dalam kegiatan OSIS.

Tidak jelas mengapa mereka begitu membenci Rini.

Satu-satunya alasan yang sering mereka lontarkan hanyalah warna kulit Rini yang dianggap aneh.

Suatu sore, di belakang aula sekolah yang sepi, Merry menghadang Rini.

“Heh, alien cantik!”

Merry menyilangkan kedua tangannya sambil tersenyum sinis.

“Kulit lo makin hari makin mirip alien hijau. Jijik banget gue lihatnya.”

Erni tertawa melengking.

Ia kemudian melemparkan sebuah topi kerucut warna-warni ke arah Rini.

“Pakai!”

Rini terdiam.

“Terus sekarang lo harus joget K-pop. Kalau salah…”

Erni mengangkat sebuah ikat pinggang kulit.

“…lo tahu sendiri akibatnya.”

Rini menundukkan kepala.

Ia tahu tidak ada gunanya melawan.

Dengan wajah menahan malu, Rini mengenakan topi konyol itu. Ia mulai bergerak mengikuti perintah mereka.

Namun, ketika satu gerakan kakinya dianggap salah, sabetan ikat pinggang langsung menghantam betisnya.

“Salah! Ulangi!” bentak Merry.

Sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Hampir setengah jam mereka mempermainkan Rini.

Ketika akhirnya Merry dan Erni pergi sambil tertawa puas, Rini hanya berdiri diam.

  • Tidak menangis.
  • Tidak berteriak.

Ia hanya mengusap bagian tubuhnya yang terasa sakit, kemudian memasukkan topi warna-warni itu ke dalam tas.

Lalu ia berjalan menuju parkiran, tempat teman-temannya berkumpul.

Andrew, teman sekelasnya, langsung melihat luka di kaki Rini.

“Aduh, La! Kaki lo sampai berdarah begitu! Kenapa lo nggak lapor guru?”

Rini malah tertawa.

Ia memegang dagunya seolah sedang berpikir serius.

“Aduh, Drew… lo nggak paham seni.”

Andrew mengernyit.

“Tadi itu bukan kekerasan.”

Rini mengangkat topi warna-warni dari dalam tas.

“Itu audisi rahasia. Gue dijanjikan jadi badut sirkus kota. Tinggal kasih hidung merah, gue resmi bisa geser posisi badut jalanan di lampu merah!”

Teman-temannya langsung tertawa.

Seperti biasa, Rini berhasil mengubah penderitaannya menjadi bahan lelucon.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu…

Di balik tawa itu, sesuatu dalam diri Rini perlahan mulai retak.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Dan ketika retakan itu akhirnya pecah, tidak ada seorang pun yang siap melihat apa yang tersembunyi di balik senyumnya.

 

Gulai Otak Spesial

Beberapa minggu kemudian, suasana sekolah mendadak terasa berbeda.

Merry dan Erni tidak masuk selama tiga hari berturut-turut.

“Tumben duo jahat nggak masuk?” tanya Andrew ketika duduk di kantin pada jam istirahat.

“Paling mereka liburan ke Bali,” jawab seorang siswa.

“Atau bolos gara-gara nggak mau ikut ujian Matematika.”

Semua tertawa.

Tidak ada seorang pun yang merasa curiga.

Merry dan Erni memang dikenal sering bepergian tanpa banyak memberikan penjelasan.

Siang itu, Rini tetap berjualan seperti biasa.

Namun, hari itu ada sesuatu yang baru.

Sebuah kuali berada di samping dagangannya.

Di atasnya terdapat tulisan sederhana:

 

Dinda, salah seorang siswi, memperhatikan isi kuali tersebut.

Ia mengerutkan kening.

“La… ini otak apa?”

Rini menoleh.

“Bentuknya kok beda? Lebih bulat dan besar.”

Rini terkekeh.

“Oh, ini otak sapi impor premium.”

Ia kemudian menuangkan kuah gulai panas ke dalam mangkuk.

“Sapinya kuliah S3 sampai jadi profesor. Makanya otaknya lebih berkembang.”

Beberapa siswa tertawa.

“Kalau dimakan, siapa tahu kita langsung pintar!”

Gelak tawa memenuhi kantin.

Kecurigaan Dinda pun menghilang.

Satu per satu mangkuk gulai otak spesial habis.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, kuali itu kosong.

Andrew bahkan menjadi salah satu orang terakhir yang mendapatkan porsinya.

Ia duduk di meja kayu dan mulai menyantap gulai tersebut.

Satu suapan.

Dua suapan.

Lalu Andrew berhenti.

Keningnya berkerut.

“Rini…”

Rini sedang membersihkan meja.

“Kenapa, Drew? Enak, kan?”

Andrew menatap mangkuknya.

“Rasanya aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Teksturnya lebih lunak dari biasanya.”

Andrew kembali mencicipinya.

“Ada rasa gurih asin yang beda. Agak amis juga… tapi anehnya enak.”

Ia menatap Rini.

“Ini benar-benar otak sapi, kan?”

Untuk beberapa detik, Rini hanya diam.

Tatapannya tertuju kepada Andrew.

Tenang.

Terlalu tenang.

Kemudian bibirnya perlahan membentuk senyum.

“Ya iyalah otak sapi.”

Rini tertawa.

“Masa otak badak?”

Andrew ikut tertawa.

“Lo bisa aja.”

“Kalau setelah makan itu lo tiba-tiba bisa menjelaskan teori relativitas, berarti gulainya berhasil.”

Andrew menepuk jidat.

Namun ia tidak menyadari satu hal.

Di balik senyum Rini, tidak ada sedikit pun tanda-tanda bercanda.

Andrew menghabiskan seluruh gulai itu.

Tanpa mengetahui apa sebenarnya yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya.

 

Rahasia di Balik Kuali

Dua hari kemudian, suasana sekolah berubah menjadi kepanikan.

Suara sirene meraung-raung dari halaman sekolah.

Dua kendaraan pemadam kebakaran berhenti di depan kantin.

Petugas masuk dengan tergesa-gesa.

Area dagangan Rini langsung disterilkan dan ditutup.

Murid-murid dikumpulkan di halaman.

Wajah mereka pucat.

Tidak ada yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa jam kemudian, hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani menyebut nama “Gulai Otak Spesial” dengan nada bercanda.

Sampel makanan yang disita dari kantin diperiksa.

Hasil pengujian DNA menunjukkan sesuatu yang mengerikan.

Potongan yang selama ini dianggap sebagai otak sapi ternyata berasal dari manusia.

Identitas DNA tersebut kemudian mengarah kepada dua orang yang telah menghilang selama beberapa hari.

Merry.

Dan Erni.

Keduanya telah menjadi korban pembunuhan.

Penyelidikan kemudian mengungkap sebuah fakta yang jauh lebih mengerikan.

Pada Senin malam, Rini diduga telah memancing Merry dan Erni ke sebuah bangunan tua terbengkalai di pinggir kota.

Ia mengaku ingin memberikan uang sebagai tanda damai agar perundungan yang selama ini terjadi berhenti.

Namun, itu hanyalah jebakan.

Di dalam ruang bawah tanah yang lembap dan gelap, Rini memperlihatkan sisi dirinya yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.

  • Tidak ada lagi tawa.
  • Tidak ada lagi lelucon.
  • Tidak ada lagi wajah gadis yang selalu berpura-pura kuat.

Yang tersisa hanyalah tatapan dingin.

Menurut hasil penyelidikan, konflik yang selama berbulan-bulan dipendam Rini akhirnya berubah menjadi tindakan yang tidak dapat ditarik kembali.

Merry dan Erni tewas malam itu.

Setelahnya, Rini berusaha menghilangkan jejak dengan menyembunyikan jasad keduanya di lokasi tersebut.

Namun, bagian tubuh tertentu justru ia bawa pulang.

Bagian yang kemudian muncul dalam kuali bertuliskan:

 

Rahasi Gelap Terkuak

Tidak seorang pun menyadari bahwa makanan yang mereka santap di kantin sekolah sebenarnya menyimpan rahasia paling gelap yang pernah terjadi di sekolah tersebut.

Pengakuan Rini

Beberapa hari kemudian, Rini duduk sendirian di ruang pemeriksaan.

Ia mengenakan pakaian tahanan.

Wajahnya masih pucat.

Namun, ekspresinya justru terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Seorang penyidik meletakkan berkas di atas meja.

“Rini.”

Suaranya terdengar tegas.

“Kenapa kamu melakukan semua ini?”

Rini tidak menjawab.

“Kamu membunuh mereka. Kamu menyembunyikan jasad mereka. Dan kamu menjadikan bagian tubuh mereka sebagai makanan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rini menundukkan kepala.

Beberapa detik kemudian, ia tersenyum tipis.

“Saya sudah terlalu lama menahan sakit, Pak.”

Suaranya lirih.

  • Saya dicambuk.
  • Saya dihina.
  • Saya dipermalukan hampir setiap hari.

Ia mengangkat wajahnya.

Matanya terlihat kosong.

“Saya selalu mencoba tertawa supaya saya nggak gila.”

Rini menarik napas panjang.

“Tapi saya manusia biasa.”

Ia berhenti sejenak.

“Saya cuma terlalu capek.”

Penyidik menatapnya tanpa berkata-kata.

Rini kemudian bersandar di kursi besi.

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

“Orang-orang bilang gulai saya enak.”

Ruangan kembali hening.

“Lumayan…”

Rini menatap lurus ke depan.

“Untuk pertama kalinya, mereka akhirnya punya ‘otak’ yang berguna buat orang lain.”

Senyum itu tetap berada di wajah Rini.

Dan untuk pertama kalinya, penyidik menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada pengakuan tersebut.

Selama ini, semua orang mengira tawa Rini adalah tanda bahwa ia kuat menghadapi perundungan.

Ternyata bukan.

Tawa itu adalah cara Rini menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu yang selama berbulan-bulan tumbuh diam-diam di dalam dirinya.

Dan ketika akhirnya keluar…

Rini tidak lagi tertawa karena ingin melupakan rasa sakit.

Ia tertawa karena rasa sakit itu telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.

By Lie Fang

kisah.org hadir dengan menyajikan kumpulan kisah kehidupan, cerita misteri, inspiratif, pengalaman unik, sejarah, budaya, serta berbagai informasi menarik yang layak untuk diketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *