Kisah Seorang Nenek: Perjuangan Terakhir Demi Menyelamatkan Cucunya

kisah.org – Di sebuah rumah kecil yang sunyi, seorang nenek duduk di samping cucunya yang masih kecil.

Wajahnya dipenuhi kesedihan dan kecemasan. Ia takut kehilangan satu-satunya kebahagiaan yang masih tersisa dalam hidupnya.

 

Tubuh cucunya tampak pucat dan lemah. Kedua matanya terpejam, sementara napasnya

terdengar berat dan perlahan. Sesekali, anak kecil itu membuka matanya sebentar sebelum kembali terpejam,

seolah-olah tubuh mungilnya sudah terlalu lelah untuk bertahan.

 

Sang nenek menggenggam tangan kecil cucunya dengan penuh kasih sayang. Ia menatap wajah

anak itu dengan hati yang hancur, berharap keajaiban akan datang dan menyelamatkan nyawa yang sangat dicintainya.

 

Kedatangan Lelaki Tua Misterius

Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu. Ketika pintu dibuka, seorang lelaki tua masuk ke dalam rumah.

Tubuhnya dibalut kain tebal yang tampak lusuh, menyerupai selimut penutup kuda.

Ia mengenakannya untuk melindungi diri dari udara dingin yang menusuk tulang.

 

Saat itu, musim dingin sedang mencapai puncaknya. Salju dan es menutupi seluruh negeri,

sementara angin bertiup begitu kencang hingga terasa seperti mengiris kulit.

 

Melihat lelaki tua itu menggigil kedinginan, sang nenek bangkit dari tempat duduknya.

Ia mengambil sebuah cangkir kecil berisi bir, lalu meletakkannya di atas kompor agar hangat.

 

Lelaki tua itu kemudian duduk dan mengayunkan buaian kecil di dekatnya. Sementara itu,

sang nenek kembali duduk di sisi cucunya. Dengan suara lirih yang bergetar, sang nenek berkata kepada lelaki tua itu,

 

“Menurutmu, aku masih bisa mempertahankannya, bukan? Tuhan kita yang Maha Pengasih pasti

tidak akan mengambil cucuku dariku. Dia masih terlalu kecil untuk meninggalkan dunia ini.”

 

Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala dengan gerakan aneh, seolah-olah

anggukan itu bisa berarti iya, tetapi juga bisa berarti tidak.

 

Sesungguhnya, lelaki tua itu bukanlah manusia biasa. Ia adalah Kematian yang datang untuk menjemput cucu sang nenek.

Sang nenek menundukkan kepala. Air matanya mengalir membasahi pipi, sementara tangannya tetap menggenggam tangan kecil cucunya.

 

Malam Panjang Bersama Cucu yang Sedang Sakit

Ia telah terjaga selama tiga hari tiga malam tanpa memejamkan mata. Tubuhnya kelelahan,

pikirannya dipenuhi kecemasan, dan hatinya tidak sanggup menerima kemungkinan bahwa

ia akan kehilangan anak yang begitu dicintainya.

 

Akhirnya, rasa lelah mengalahkan kesadarannya. Kepalanya terasa berat, dan ia tertidur meskipun hanya untuk sesaat.

Namun, ketika ia tersentak bangun karena kedinginan, sesuatu yang mengerikan telah terjadi.

 

Lelaki tua itu sudah pergi.

Dan cucunya pun telah tiada.

Kematian telah membawa anak kecil itu pergi.

 

Sang nenek terdiam. Ia menatap buaian yang kini kosong, seolah-olah tidak percaya

pada apa yang baru saja terjadi. Rumah yang sebelumnya dipenuhi napas lemah cucunya kini terasa begitu sunyi.

 

Di sudut ruangan, jam tua mulai berdentang. Rantai jam berderit, beban beratnya jatuh ke tanah, lalu jarumnya berhenti bergerak.

Seolah-olah waktu pun ikut berhenti bagi seorang nenek yang baru saja kehilangan seluruh kebahagiaannya.

 

Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari keluar rumah sambil memanggil-manggil cucunya.

“Cucuku! Di mana kau? Kembalikan cucuku!”

Namun, hanya angin dingin yang menjawab jeritannya.

 

Di tengah hamparan salju, ia melihat seorang wanita berjubah hitam panjang. Wanita

itu berdiri dengan tenang di tengah udara yang membeku.

 

“Kematian telah datang ke rumahmu,” kata wanita itu. “Aku melihatnya pergi membawa

anak kecil yang kau cari. Ia bergerak lebih cepat daripada angin, dan tidak pernah

mengembalikan siapa pun yang telah dibawanya.”

 

Mendengar perkataan itu, sang nenek semakin putus asa.

“Kalau begitu, katakan kepadaku ke mana ia pergi!” pintanya. “Aku akan mencarinya. Aku tidak

peduli sejauh apa aku harus berjalan. Aku hanya ingin menemukan cucuku kembali.”

 

Wanita berjubah hitam itu menatapnya.

“Aku mengetahui jalan yang ditempuh Kematian. Namun, sebelum aku memberitahumu,

kau harus menyanyikan semua lagu yang pernah kau nyanyikan untuk cucumu.

Aku menyukai lagu-lagu itu. Aku pernah mendengarnya ketika kau menangis sambil

menyanyikannya pada malam-malam yang panjang.”

 

“Aku akan menyanyikan semuanya untukmu,” jawab sang nenek. “Akan kulakukan

apa pun yang kau minta. Tetapi, kumohon, jangan menahanku lebih lama lagi. Aku harus menemukan cucuku.”

 

Namun, wanita itu tetap duduk diam.

Tidak ada pilihan lain. Sang nenek pun mulai bernyanyi.

 

Ia juga menyanyikan lagu-lagu yang mengiringi malam-malam mereka,

ketika hanya ada dirinya dan cucu kecilnya di dalam rumah sederhana itu.

 

Tetapi kali ini, tidak ada anak kecil yang mendengarkan.

Tidak ada tangan mungil yang menggenggam jemarinya.

Tidak ada senyum polos yang menyambut nyanyiannya.

 

Yang tersisa hanyalah suara seorang nenek yang patah hati, bercampur dengan isak tangis yang tidak sanggup lagi ia tahan.

Air matanya jatuh satu demi satu ke atas salju.

 

Setelah sekian lama mendengarkan, wanita berjubah hitam itu akhirnya berkata,

“Pergilah ke arah kanan, menuju hutan cemara yang gelap. Aku melihat Kematian melewati jalan itu bersama cucumu.”

Tanpa membuang waktu, sang nenek segera berangkat.

 

Ia berjalan menembus salju, mengabaikan rasa dingin yang menggigit kulitnya. Kakinya terasa sakit,

tubuhnya semakin lemah, tetapi ia tidak berhenti.

 

Baginya, tidak ada rasa sakit yang lebih besar daripada kehilangan cucu yang telah menjadi alasan untuknya bertahan hidup.

Di dalam hutan, ia tiba di sebuah persimpangan jalan. Ia tidak tahu jalan mana yang harus dipilih.

 

Di dekatnya berdiri semak berduri yang meranggas. Tidak ada daun ataupun bunga yang

tumbuh di ranting-rantingnya. Semuanya membeku di tengah musim dingin yang kejam.

 

Sang nenek mendekati semak itu dan bertanya,

“Apakah kau melihat Kematian lewat bersama cucuku?”

“Ya,” jawab semak berduri itu. “Aku melihatnya. Namun, aku tidak akan memberitahumu

ke mana ia pergi sebelum kau menghangatkanku di dadamu. Aku begitu kedinginan hingga hampir mati membeku.”

 

Sang nenek tidak berpikir panjang.

Ia segera mendekap semak berduri itu ke dadanya, berharap kehangatan tubuhnya dapat menyelamatkannya dari kebekuan.

Duri-duri tajam menusuk kulitnya. Darah mengalir dari dadanya dan membasahi ranting-ranting kering tersebut.

 

Namun, ia tidak melepaskannya. Rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaan yang sedang ia rasakan di dalam hatinya.

Seolah-olah kasih sayang seorang nenek mampu menghidupkan sesuatu yang hampir mati.

Setelah merasakan kehangatan itu, semak berduri akhirnya menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya.

 

Sang nenek kembali melanjutkan perjalanan

Setelah berjalan cukup lama, sang nenek tiba di sebuah danau yang sangat luas tetapi

airnya juga tidak cukup terbuka untuk diseberangi dengan mudah.

 

Padahal, ia harus melewati danau itu jika ingin menemukan cucunya.

Dalam keputusasaan, sang nenek berlutut di tepi danau. Ia mencoba meminum airnya, berharap

air danau akan surut dan memberinya jalan untuk menyeberang.

 

Tentu saja, hal itu mustahil dilakukan oleh manusia biasa.

Namun, seorang nenek yang sedang berjuang menyelamatkan cucunya tidak lagi memikirkan apa

yang mungkin atau tidak mungkin. Ia hanya memikirkan satu hal: menemukan anak yang telah direnggut darinya.

 

Tiba-tiba, danau itu berkata, “Kau tidak akan berhasil dengan cara seperti itu.

Mari kita membuat kesepakatan. Aku suka mengumpulkan mutiara, dan kedua matamu

adalah yang paling murni yang pernah kulihat. Jika kau bersedia menangis hingga

air matamu mengalir ke dalam airku, aku akan membawamu ke seberang, menuju rumah

kaca tempat Kematian tinggal dan merawat bunga-bunga serta pepohonan yang melambangkan kehidupan manusia.”

 

Tanpa ragu, sang nenek menjawab, “Akan kuberikan apa pun yang kau inginkan. Jika kedua

mataku adalah harga yang harus kubayar untuk menemukan cucuku, aku rela kehilangannya.

Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi. Aku ingin memeluknya, meskipun hanya untuk sesaat.”

 

Air mata kembali mengalir dari matanya.

Ia menangis begitu lama hingga kedua matanya jatuh ke dasar danau dan berubah menjadi dua mutiara yang berharga.

 

Danau itu pun menepati janjinya. Ia mengangkat sang nenek dan menghempaskannya

dengan lembut ke seberang pantai, seolah-olah sedang mengayunkannya di atas buaian.

 

Di hadapannya berdiri sebuah bangunan besar yang begitu luas hingga membentang

sejauh bermil-mil. Tidak jelas apakah bangunan itu merupakan gunung berhutan dengan

gua-gua di dalamnya atau sebuah tempat yang sengaja dibangun.

 

Namun, sang nenek tidak dapat melihat apa pun.

Ia telah mengorbankan kedua matanya demi menemukan cucu yang dicintainya.

Dengan langkah tertatih-tatih, ia terus berjalan sambil meraba-raba jalan di hadapannya.

 

“Di manakah aku bisa menemukan Kematian?” tanyanya. “Ia telah membawa cucuku pergi.

Tolong katakan kepadaku di mana anak kecil itu berada.”

 

Seorang wanita tua berambut abu-abu muncul dari dalam bangunan. Ia sedang berjalan

mengitari rumah kaca sambil menyirami tanaman-tanaman yang tumbuh di sana.

 

“Kematian belum tiba di sini,” jawab wanita tua itu. “Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini? Siapa yang membantumu?”

“Tuhanlah yang telah menolongku,” jawab sang nenek. “Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Jika Tuhan telah menolongku sampai sejauh ini, tidakkah kau juga akan

berbelas kasih kepadaku? Tolong, katakan di mana aku bisa menemukan cucuku.”

 

“Aku tidak mengenal cucumu. Lagipula, sekarang kau sudah kehilangan penglihatanmu. Namun,

aku mungkin bisa membantumu. Di tempat ini terdapat bunga dan pohon yang

mewakili kehidupan setiap manusia. Ada yang tumbuh subur, ada pula yang mulai layu.

 

Malam ini, banyak di antaranya yang telah kehilangan kesegarannya, dan

Kematian akan segera datang untuk mengambilnya.”

 

Ia kemudian menjelaskan bahwa setiap bunga dan pohon melambangkan kehidupan

seseorang di dunia. Masing-masing memiliki bentuk dan keadaan yang berbeda,

sebagaimana kehidupan manusia yang tidak pernah sama.

 

“Jika kau dapat mengenali bunga yang mewakili kehidupan cucumu, mungkin

kau bisa menemukannya,” lanjut wanita tua itu. “Namun, apa yang akan kau berikan kepadaku jika aku membantumu?”

 

Sang nenek terdiam sejenak.

“Aku tidak memiliki apa-apa lagi,” jawabnya lirih. “Kedua mataku telah kuberikan kepada danau.

Tubuhku sudah tua, dan aku tidak memiliki harta yang bisa kuberikan kepadamu. Tetapi,

jika kau memintaku melakukan sesuatu, aku akan melakukannya.

 

Bahkan jika aku harus pergi ke ujung dunia sekalipun.”

Wanita tua itu memperhatikan rambut hitam panjang sang nenek.

“Aku tidak membutuhkanmu pergi ke mana-mana. Berikan saja rambut hitammu kepadaku.

 

Rambutmu indah, dan aku menginginkannya. Sebagai gantinya, kau boleh mengambil rambut putihku.”

Sang nenek tidak keberatan sedikit pun.

“Jika hanya itu yang kau inginkan, ambillah semuanya.”

 

Ia menyerahkan rambut hitam panjangnya dan menerima rambut putih milik wanita tua tersebut.

Kini, ia tidak lagi memiliki rambut indah yang dahulu menghiasi kepalanya. Namun,

kehilangan itu tidak berarti apa-apa baginya. Sejak cucunya dibawa pergi, ia merasa

telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kecantikan,

penglihatan, ataupun kebanggaan dirinya sendiri.

 

Ia telah kehilangan kebahagiaannya.

Setelah itu, mereka memasuki rumah kaca yang sangat luas. Di dalamnya tumbuh

berbagai macam bunga dan pepohonan yang menakjubkan.

 

Ada bunga hyacinth yang mekar di balik lonceng kaca, bunga peony yang tampak kuat,

serta berbagai tanaman lain yang tumbuh dalam bentuk dan warna yang berbeda-beda.

 

Ada pula tanaman air yang tampak segar, sementara sebagian lainnya terlihat sakit.

Beberapa dililit ular air, dan kepiting-kepiting hitam menempel pada batangnya.

 

Pohon palem, pohon ek, dan pohon pisang berdiri dengan megah. Di antara

pepohonan besar itu, tumbuh pula tanaman-tanaman kecil seperti thyme dan peterseli.

 

Namun, tempat itu bukanlah rumah kaca biasa.

Setiap bunga dan pohon di sana mewakili kehidupan seorang manusia di dunia. Ada yang

berasal dari negeri jauh, ada yang tumbuh di tempat bersalju, dan ada pula yang hidup di berbagai penjuru bumi.

 

Sebagian pohon besar ditanam dalam pot-pot kecil hingga tampak sesak dan

hampir memecah wadahnya. Sementara itu, bunga-bunga kecil yang rapuh tumbuh

di atas tanah subur, dikelilingi lumut dan dirawat dengan penuh perhatian.

 

Sang nenek berjalan perlahan di antara tanaman-tanaman itu.

Meskipun telah kehilangan penglihatannya, ia dapat merasakan kehidupan yang

berdenyut di dalam setiap bunga dan pohon. Ia mendengarkan detak demi detak,

mencoba mengenali detak jantung yang paling dikenalnya.

 

Di antara jutaan kehidupan yang tumbuh di tempat itu, akhirnya ia menemukannya.

“Itu dia!” serunya sambil mengulurkan tangan ke arah sekuntum bunga crocus kecil yang mulai layu. “Itu cucuku!”

 

Namun, wanita tua yang menemaninya segera berseru, “Jangan sentuh bunga itu!

Duduklah di sini dan tunggu Kematian datang. Aku memperkirakan ia akan tiba sebentar lagi.

Ketika ia datang untuk mengambil bunga itu, jangan biarkan dia melakukannya.

 

Jika perlu,  ancamlah bahwa kau akan merusak bunga-bunga lainnya. Ia tidak akan berani

membiarkanmu melakukannya begitu saja, sebab setiap bunga yang ada di sini harus

dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Tidak satu pun boleh diambil tanpa izin-Nya.”

 

Sang nenek pun duduk dan menunggu. Udara dingin mulai menyusup ke dalam rumah kaca.

Hawa beku merambat di antara bunga-bunga, dan sang nenek merasakan kehadiran sosok yang telah merenggut cucunya.

 

Kematian akhirnya tiba. “Bagaimana kau bisa sampai di sini lebih dahulu dariku?” tanyanya dengan suara dingin.

Sang nenek menjawab singkat,

“Aku seorang nenek.”

 

Hanya tiga kata sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan seluruh perjuangan, pengorbanan,

dan cinta yang telah membawanya menempuh perjalanan panjang demi menemukan cucunya.

 

Kematian kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil bunga kecil yang terbaring layu itu.

Namun, sang nenek segera menggenggamnya dengan hati-hati, berusaha melindunginya tanpa merusak satu pun daunnya.

 

Kematian mengembuskan napas ke arah tangannya. Napas itu terasa lebih dingin

daripada angin musim dingin yang menusuk tulang. Perlahan-lahan, kekuatan sang nenek melemah,

dan genggamannya mulai mengendur.

 

“Kau tidak akan bisa mengalahkanku,” kata Kematian.

“Tetapi Tuhan yang Maha Pengasih bisa mengalahkanmu,” jawab sang nenek.

 

“Aku hanya menjalankan kehendak-Nya.  Aku mengambil bunga

dari pohon dari taman ini, lalu menanamnya kembali di taman-taman Firdaus, di negeri

yang tidak kukenal. Aku tidak tahu bagaimana mereka tumbuh di sana, ataupun seperti apa taman itu.

Aku hanya melakukan tugas yang diberikan kepadaku.”

 

“Kembalikan cucuku!” pintanya. “Aku sudah memberikan segalanya. Aku kehilangan kedua mataku,

rambutku, dan hampir seluruh kekuatanku hanya untuk sampai ke tempat ini. Apakah semua

pengorbananku tidak berarti apa-apa? Apakah aku harus pulang dengan tangan kosong setelah menempuh perjalanan sejauh ini?”

 

Tidak ada jawaban yang mampu menghapus penderitaannya.

Dalam keputusasaan, ia meraih dua bunga yang indah dan berseru, “Kalau kau tidak mau

mengembalikan cucuku, aku akan merusak semua bunga yang ada di sini! Aku tidak peduli lagi!

Aku tidak sanggup melihat kehidupan lain tetap tumbuh sementara cucuku harus pergi meninggalkanku!”

 

Kematian segera memperingatkannya.

“Jangan sentuh bunga-bunga itu! Kau sendiri berkata bahwa kau tidak bahagia. Apakah

sekarang kau ingin membuat nenek lain merasakan penderitaan yang sama seperti dirimu?”

 

Kata-kata itu membuat sang nenek terdiam.

Ia membayangkan seorang nenek yang mungkin sedang duduk di rumah kecilnya,

memeluk cucu yang dicintainya, dan berharap anak itu akan tumbuh sehat hingga dewasa.

 

Ia membayangkan seorang nenek yang juga akan menangis apabila cucunya tiba-tiba menghilang dari pelukannya.

Perlahan-lahan, ia melepaskan kedua bunga yang digenggamnya.

 

Ia tidak ingin penderitaannya menjadi alasan bagi orang lain untuk ikut kehilangan kebahagiaan.

Melihat itu, Kematian berkata, “Inilah kedua matamu. Aku mengambilnya dari danau untukmu.

Sekarang keduanya telah kembali, dan penglihatanmu bahkan lebih jernih daripada sebelumnya.

Ambillah, lalu lihatlah ke dalam sumur yang ada di dekat sini.”

 

Ketika Sang Nenek Mengetahui Kemungkinan Masa Depan Cucunya

Sang nenek menerima kembali kedua matanya. Dengan penglihatan yang telah pulih,

ia berjalan mendekati sumur dan melihat ke dalamnya.

 

Apa yang dilihatnya membuat hatinya semakin hancur.

Di dalam sumur itu, ia menyaksikan masa depan dua kehidupan manusia.

Salah satunya dipenuhi kebahagiaan. Kehidupan itu akan membawa kebaikan bagi banyak orang,

menyebarkan sukacita, dan menjadi berkat bagi dunia.

 

Namun, kehidupan yang lain dipenuhi kesengsaraan. Kemiskinan, kekhawatiran, kesedihan,

dan penderitaan seolah-olah akan selalu menyertainya.

Sang nenek tidak tahu harus berkata apa.

 

Kematian kemudian menjelaskan,

“Keduanya adalah bagian dari kehendak Tuhan.”

Dengan suara bergetar, sang nenek bertanya, “Bunga yang manakah yang akan

mengalami penderitaan? Dan bunga yang manakah yang akan menjalani kehidupan penuh kebahagiaan?”

 

“Aku tidak bisa memberitahumu,” jawab Kematian. “Namun, salah satu dari kedua bunga

itu mewakili kehidupan cucumu sendiri. Apa yang kau lihat di dalam sumur adalah salah satu kemungkinan masa depannya.”

 

Seketika, tubuh sang nenek gemetar. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan

panjangnya akan membawanya pada pilihan yang begitu menyakitkan.

 

Selama ini, ia hanya ingin cucunya kembali. Ia ingin mendengar suara kecilnya, melihat senyumnya,

dan merasakan kehangatannya sekali lagi.

 

Namun, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa kehidupan cucunya mungkin

akan dipenuhi penderitaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

 

Dengan suara penuh ketakutan, ia menjerit, “Yang mana cucuku? Katakan kepadaku!

Tolong, selamatkan anak itu dari penderitaan yang begitu besar. Jika masa depannya

memang penuh kesengsaraan, lebih baik bawalah dia pergi ke kerajaan Tuhan.

 

Aku tidak ingin dia menjalani kehidupan yang dipenuhi air mata dan kesedihan.”

Ia menangis semakin keras. “Lupakan semua air mataku. semua permohonanku.

 

Lupakan semua yang telah kukatakan dan kulakukan. Aku tidak ingin memaksakan kehendakku

jika itu justru membuat cucuku menderita.”

 

Kematian menatapnya dan bertanya, “Aku tidak memahami keinginanmu. Bukankah

sejak tadi kau berjuang untuk mendapatkan cucumu kembali? Apakah sekarang kau

ingin membawanya pulang, atau membiarkanku membawanya pergi ke tempat yang tidak kaukenal?”

 

Sang nenek tidak segera menjawab. Ia telah mengorbankan segalanya demi

menemukan cucunya. Ia rela kehilangan kedua matanya, menyerahkan rambutnya,

membiarkan tubuhnya terluka, dan menempuh perjalanan yang hampir mustahil dilakukan oleh manusia biasa.

 

Semua itu ia lakukan karena cinta. Namun, cinta terkadang bukan hanya tentang

mempertahankan seseorang agar tetap berada di sisi kita. Cinta juga berarti bersedia

menerima kenyataan yang paling menyakitkan, sekalipun hati kita sendiri harus hancur karenanya.

 

Sang nenek akhirnya berlutut. “Ya Tuhan, jangan kabulkan doaku apabila permintaanku

bertentangan dengan kehendak-Mu. Aku tidak tahu apa yang terbaik bagi cucuku.

Aku hanya tahu bahwa aku mencintainya lebih daripada apa pun di dunia ini.”

 

Ia berhenti sejenak, mencoba menahan tangis yang terus mengguncang tubuhnya.

“Selama ini, aku memohon agar Engkau mengembalikannya kepadaku. Aku ingin terus memeluknya,

menjaganya, dan melihatnya tumbuh besar. Namun, aku tidak mengetahui

apa yang akan dihadapinya di masa depan. Aku tidak tahu apakah hidupnya akan dipenuhi

kebahagiaan atau justru kesedihan yang tidak berkesudahan.”

 

Kepalanya semakin tertunduk. “Jika kepergiannya adalah jalan yang terbaik baginya, biarkanlah ia pergi. Aku tidak ingin cintaku

menjadi alasan bagi penderitaannya. Aku tidak ingin kebahagiaanku dibayar dengan air matanya.”

 

Akhir Kisah yang Mengajarkan Arti Pengorbanan

 

Sang nenek akhirnya terdiam. Di hadapannya, bunga kecil yang melambangkan

kehidupan cucunya masih terbaring layu. Ia tidak lagi berusaha merebutnya dari tangan Kematian.

 

Ia hanya bisa berdoa, berharap bahwa di balik segala sesuatu yang tidak mampu dipahaminya,

masih ada kasih sayang yang tidak pernah meninggalkan mereka.

 

Mungkin, bagi dunia, ia hanyalah seorang nenek tua yang kehilangan cucunya.

Namun, tidak seorang pun mengetahui betapa jauh ia telah berjalan, betapa banyak luka

yang telah ia terima, dan betapa besar cinta yang telah ia berikan demi menyelamatkan satu kehidupan kecil.

 

Ia telah memberikan hampir segalanya yang dimilikinya.

Dan pada akhirnya, ia harus belajar menerima bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti mampu mempertahankannya.

Sebab, terkadang, pengorbanan terbesar bukanlah berjuang untuk

mendapatkan kembali seseorang yang kita cintai, melainkan merelakannya pergi ketika

kita tidak lagi mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Halo nama ku Lie Fang, Saya adalah seorang blogger

By Lie Fang

kisah.org hadir dengan menyajikan kumpulan kisah kehidupan, cerita misteri, inspiratif, pengalaman unik, sejarah, budaya, serta berbagai informasi menarik yang layak untuk diketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *