“Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Jika kehadiranku hanya membawa kesialan, mengapa Tuhan memberiku kehidupan? Apakah aku tidak pantas merasakan kasih sayang seperti anak-anak lainnya?”
Halo, selamat datang di Kisah.org. Kali ini, admin ingin membagikan sebuah kisah pilu tentang pengalaman hidup seorang teman bernama Robert. Kisah tentang seorang anak yang harus menghadapi kerasnya kehidupan di usia yang masih sangat muda. Di saat anak-anak seusianya menikmati masa remaja dengan penuh kebahagiaan, Robert justru harus berjuang menghadapi kemiskinan, kekerasan dalam keluarga, dan perkataan menyakitkan dari orang yang paling disayanginya.
Robert hanyalah seorang anak yang menginginkan kehidupan sederhana. Ia tidak pernah bermimpi memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, ataupun kekayaan yang berlimpah. Baginya, bisa makan bersama keluarga, melihat ibunya tersenyum, dan mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tuanya sudah lebih dari cukup.
Namun, kenyataan tidak selalu seindah harapan. Terkadang, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi tempat yang paling menyakitkan.
Masa Remaja yang Penuh Air Mata
Robert adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, ia masih duduk di bangku SMA. Namun, kehidupannya jauh berbeda dari teman-teman seusianya.
Robert berasal dari keluarga sederhana dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Selain harus memikirkan pelajaran di sekolah, ia juga harus membantu ibunya mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Setiap kali melihat teman-temannya diantar ke sekolah oleh orang tua mereka, Robert hanya bisa tersenyum kecil sambil menyembunyikan rasa iri di dalam hatinya.
Betapa bahagianya mereka yang masih bisa merasakan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Sementara itu, Robert bahkan tidak tahu kapan terakhir kali ayahnya memeluknya dengan penuh kasih sayang atau ibunya bertanya apakah ia sudah makan.
“Aku juga ingin seperti mereka. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya diperhatikan, dipeluk ketika sedang sedih, dan ditanya apakah hariku berjalan dengan baik. Apakah keinginanku terlalu berlebihan?”
Pertanyaan itu sering muncul dalam benaknya, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban.
Di Balik Senyuman, Ada Rasa Lapar yang Disembunyikan
Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Robert harus membantu ibunya mengantarkan pesanan katering kepada pelanggan.
Ketika teman-temannya masih menikmati sarapan bersama keluarga atau bersiap berangkat ke sekolah, Robert sudah harus bekerja membantu ibunya.
Setelah selesai mengantarkan pesanan, ia berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
Tak jarang Robert datang terlambat. Tubuhnya kelelahan, perutnya kosong, dan keringat membasahi seragam sekolahnya.
Namun, ia tidak pernah mengeluh.
Robert menyadari bahwa ibunya sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia tidak ingin menambah beban pikiran perempuan yang telah melahirkannya itu.
Suatu siang, Robert datang ke sekolah dengan wajah pucat dan tubuh yang terlihat sangat lemah.
Edi, teman sebangkunya, mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Robert, kamu kenapa hari ini? Kok wajahmu pucat sekali? Kamu sakit atau belum makan?” tanya Edi dengan nada khawatir.
Robert hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
“Enggak kok, Di. Aku baik-baik saja. Mungkin cuma sedikit kecapekan,” jawab Robert.
“Kamu yakin? Kalau sakit, bilang saja. Nanti aku antar ke klinik.”
“Iya, Di. Makasih ya. Aku enggak apa-apa.”
Edi akhirnya kembali memperhatikan pelajaran, sementara Robert berusaha menahan rasa lapar dan pusing yang sejak pagi menyiksa tubuhnya.
Sesekali ia menundukkan kepala di atas meja, berharap rasa sakit itu segera menghilang.
Sebenarnya, Robert belum makan sejak pagi. Namun, ia terlalu malu untuk menceritakan keadaannya kepada teman-temannya.
Baginya, lebih baik menahan lapar daripada harus membuat orang lain merasa kasihan kepadanya.
“Terkadang, aku iri melihat orang lain yang bisa makan tanpa harus memikirkan apakah besok masih ada uang untuk membeli makanan. Namun, aku sadar, keadaan keluargaku memang tidak seperti mereka.”
Tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi.
“Ding… Dong…”
Waktu pulang akhirnya tiba.
Robert segera membereskan buku-bukunya. Dengan langkah lemah, ia berjalan meninggalkan sekolah dan kembali menghadapi kehidupan yang tidak pernah mudah baginya.
Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat untuk Pulang
Keesokan harinya, Robert tidak masuk sekolah.
Edi dan teman-temannya mengira Robert sedang sakit karena sehari sebelumnya ia terlihat pucat dan lemah.
Namun, sehari berlalu, dua hari berlalu, hingga hampir satu minggu Robert tidak juga terlihat di sekolah.
Wali kelasnya mulai merasa khawatir.
“Anak-anak, apakah ada yang tahu Robert ke mana? Sudah beberapa hari dia tidak masuk sekolah tanpa memberikan kabar. Akhir-akhir ini dia juga sering sekali tidak hadir,” tanya wali kelas.
Edi mengangkat tangannya.
“Saya kurang tahu, Pak. Terakhir kali masuk sekolah, Robert kelihatan pucat dan lemas. Waktu saya tanya, katanya cuma kecapekan.”
“Apakah ada yang tahu alamat rumahnya atau bisa menghubunginya?”
Beberapa murid hanya menggelengkan kepala.
“Baiklah, nanti Bapak coba mencari kabar tentang Robert. Kalau ada yang mengetahui keadaannya, segera beri tahu Bapak, ya.”
Tidak seorang pun mengetahui bahwa di balik ketidakhadiran Robert, ada sebuah kejadian mengerikan yang telah menghancurkan hatinya.
Malam itu, rumah Robert kembali dipenuhi suara pertengkaran.
Ayahnya yang sedang diliputi amarah mulai melakukan kekerasan terhadap ibu dan kakaknya.
Tangisan dan teriakan memenuhi rumah sederhana tersebut.
Robert yang menyaksikan kejadian itu tidak sanggup lagi melihat orang-orang yang disayanginya diperlakukan dengan kasar.
Ia berusaha melindungi ibu dan kakaknya, tetapi ayahnya justru semakin kehilangan kendali.
Dalam keadaan panik dan dipenuhi ketakutan, Robert mengambil sebilah pisau untuk menghentikan tindakan ayahnya.
Namun, ayahnya segera berusaha merebut pisau tersebut.
Terjadilah perebutan yang membuat tangan Robert terluka cukup parah.
Suara keributan akhirnya mengundang perhatian para tetangga. Mereka segera datang dan berusaha melerai pertengkaran itu sebelum keadaan semakin memburuk.
Malam itu, Robert bukan hanya terluka secara fisik. Hatinya pun seolah hancur berkeping-keping.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus menghadapi ayah kandungnya sendiri demi melindungi keluarga.
“Ayah, aku tidak pernah membencimu. Aku hanya ingin Ayah berhenti menyakiti Ibu. Aku ingin kita hidup seperti keluarga lainnya. Apakah keinginanku untuk memiliki keluarga yang bahagia adalah sebuah kesalahan?”
Senyuman Palsu di Balik Luka yang Belum Sembuh
Beberapa hari kemudian, Robert akhirnya kembali masuk sekolah.
Namun, kali ini penampilannya terlihat berbeda. Wajahnya semakin kurus, matanya tampak sayu, dan salah satu tangannya masih dibalut perban.
Meski demikian, Robert tetap berusaha tersenyum seperti biasanya.
Edi yang melihat kedatangannya segera menghampiri.
“Robert! Kamu ke mana saja? Kok baru masuk sekolah? Kami semua khawatir, tahu!”
Robert hanya tersenyum.
“Maaf ya, Di. Kemarin aku sedikit sakit.”
Edi memperhatikan tangan Robert yang dibalut perban.
“Loh, tanganmu kenapa? Kok sampai diperban begitu?”
“Oh, ini? Kemarin aku mengalami sedikit kecelakaan,” jawab Robert sambil berusaha menyembunyikan tangannya.
“Kecelakaan? Kenapa kamu enggak kasih tahu kami? Tanganmu pasti sakit sekali.”
“Enggak apa-apa, Di. Sekarang sudah mulai membaik.”
Edi menatap sahabatnya dengan penuh kekhawatiran.
“Kalau ada masalah, cerita saja, Bert. Jangan semuanya kamu pendam sendiri.”
Mendengar perkataan itu, Robert terdiam sejenak.
Ada perasaan hangat yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar seseorang berbicara kepadanya dengan penuh perhatian.
Namun, ia tetap memilih menyembunyikan kenyataan.
“Iya, Di. Makasih banyak.”
Robert kembali tersenyum, meskipun jauh di dalam hatinya ia ingin sekali menangis.
“Andai kamu tahu, Di, betapa beratnya kehidupanku sekarang. Aku ingin sekali menceritakan semuanya, tetapi aku takut air mataku tidak akan berhenti jika aku mulai berbicara.”
Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi.
Edi mengajak Robert pergi ke kantin.
“Bert, ke kantin, yuk! Aku lapar banget.”
Robert langsung menggelengkan kepala.
“Kamu duluan saja, Di. Aku masih mau menyelesaikan tugas.”
“Ya sudah, nanti nyusul, ya!”
“Iya, nanti aku nyusul.”
Sepuluh menit berlalu, tetapi Robert tidak juga datang ke kantin.
Edi mulai merasa heran. Ia tidak mengetahui bahwa Robert sengaja menolak ajakannya karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
Di dalam kelas yang mulai sepi, Robert hanya duduk sambil menatap halaman sekolah dari balik jendela.
Perutnya terasa lapar, tetapi ia mencoba mengabaikannya.
Ia mengeluarkan botol air minum dari tasnya dan meneguk air yang tersisa.
“Tidak apa-apa, Robert. Kamu sudah terbiasa menahan lapar. Yang penting, Ibu, Kakak, dan Adik bisa makan hari ini.”
Begitulah cara Robert menghibur dirinya sendiri.
Ketika Pendidikan Harus Dikalahkan oleh Kemiskinan
Keesokan harinya, seluruh siswa diminta segera melunasi pembayaran buku sekolah.
“Bagi siswa yang belum membayar uang buku, mohon segera dilunasi. Jika belum melunasi, kalian tidak diperkenankan mengikuti pelajaran sampai pembayaran diselesaikan,” ujar guru yang bertugas.
Mendengar pengumuman tersebut, Robert hanya bisa menundukkan kepala.
Tangannya perlahan meremas ujung seragam sekolah.
Ia tahu bahwa ibunya tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya pendidikannya.
Bahkan, biaya sekolah kakak dan adiknya sudah menunggak selama dua bulan.
Robert sebenarnya memiliki pekerjaan sampingan. Namun, penghasilan yang diperolehnya hanya cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Belum lagi kondisi tangannya yang terluka akibat kejadian malam itu membuatnya kesulitan bekerja seperti biasanya.
Selama hampir dua bulan, tangannya tidak dapat digerakkan dengan normal.
Ia ingin meminta uang kepada ibunya, tetapi setiap kali melihat wajah perempuan itu yang kelelahan, niatnya selalu diurungkan.
Robert tidak tega.
Ia tahu bahwa ibunya sudah berjuang sekuat tenaga demi menghidupi ketiga anaknya.
Malam demi malam, Robert terus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membayar sekolah.
Namun, semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa tidak berdaya.
“Aku ingin sekolah, Bu. Aku ingin lulus, bekerja, dan suatu hari nanti membelikan Ibu rumah yang nyaman. Tapi bagaimana aku bisa mengejar semua impian itu jika untuk membeli buku saja kita tidak punya uang?”
Air matanya perlahan menetes.
Ia segera menghapusnya agar tidak terlihat oleh siapa pun.
Robert mulai menyadari bahwa dalam keadaan ekonomi keluarganya yang semakin sulit, mungkin ada impian yang harus ia korbankan.
Dan impian itu adalah pendidikannya sendiri.
Perkataan Ibu yang Lebih Menyakitkan daripada Luka di Tangan
Sejak kejadian pertengkaran dengan ayahnya, kehidupan keluarga Robert semakin sulit.
Ibunya harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, kondisi tangan Robert yang belum pulih membuatnya tidak bisa membantu seperti sebelumnya.
Tekanan ekonomi, kelelahan, dan berbagai persoalan keluarga membuat ibunya semakin sering meluapkan emosi.
Sayangnya, Robert kerap menjadi sasaran kemarahan tersebut.
Hingga suatu hari, sebuah perkataan yang tidak pernah dibayangkan Robert akhirnya keluar dari mulut ibunya.
“Kamu ini memang anak pembawa sial! Gara-gara kamu, masalah keluarga kita semakin banyak!”
Robert terdiam.
Dadanya terasa sesak. Ia menatap wajah ibunya, berharap bahwa perkataan tersebut hanyalah luapan emosi sesaat.
Namun, kalimat itu terus terngiang di telinganya.
Anak pembawa sial
Tiga kata yang begitu singkat, tetapi mampu menghancurkan hati seorang anak yang selama ini hanya ingin membuat ibunya bahagia.
Robert tidak membalas perkataan tersebut.
Ia hanya menundukkan kepala dan berjalan perlahan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia menutup pintu dan duduk di sudut ruangan.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya.
“Bu, apakah aku benar-benar anak pembawa sial? Apakah semua kesulitan yang kita alami adalah kesalahanku? Aku hanya ingin melindungi Ibu dan Kakak malam itu. Aku tidak pernah berniat membuat kehidupan kita semakin sulit.”
Robert memandangi tangannya yang masih terluka.
Luka itu mengingatkannya pada malam ketika ia berusaha melindungi keluarganya.
Namun, mengapa sekarang justru dirinya yang disalahkan?
“Seandainya Ibu tahu, setiap hari aku selalu berusaha menjadi anak yang baik. Aku rela menahan lapar, berjalan jauh ke sekolah, dan bekerja meskipun tubuhku kelelahan. Semua itu kulakukan karena aku ingin melihat Ibu tersenyum.”
Tangis Robert semakin menjadi.
“Aku tidak meminta Ibu membelikanku barang-barang mahal.. Aku tidak meminta uang jajan seperti teman-temanku…Aku hanya ingin Ibu memelukku sekali saja dan mengatakan bahwa Ibu menyayangiku..”
Malam itu, Robert menangis hingga tertidur.
Tidak ada seorang pun yang datang mengetuk pintunya untuk menanyakan keadaannya.
Mengapa Aku Dilahirkan Jika Aku Hanya Dianggap Anak Pembawa Sial?
Hari demi hari berlalu
Robert semakin sering menyendiri. Ia mulai kehilangan semangat untuk pergi ke sekolah dan merasa bahwa semua usaha yang dilakukannya tidak pernah cukup.
Setiap kali melihat teman-temannya tertawa bersama orang tua mereka, hatinya terasa begitu perih.
Ia iri melihat seorang ibu yang dengan sabar menyiapkan bekal untuk anaknya.
Ia iri melihat seorang ayah yang datang menjemput anaknya ketika hujan turun.
Bahkan, ia iri melihat teman-temannya dimarahi karena terlambat pulang, sebab setidaknya masih ada seseorang yang mengkhawatirkan keberadaan mereka.
Sementara itu, Robert merasa bahwa dirinya hanya menjadi beban bagi keluarga.
“Mengapa hidupku harus seberat ini? Apa salahku sampai aku harus merasakan semua penderitaan ini di usia yang masih sangat muda?”
“Mengapa Ibu selalu menyalahkanku? Mengapa Kakak dan Adik tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama? Bukankah aku juga anak Ibu? Bukankah aku juga dilahirkan dari rahim yang sama?”
Pertanyaan yang Tidak ada Jawabannya
Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi pikirannya.
Robert sebenarnya sangat menyayangi ibunya. Ia mengetahui betapa berat perjuangan perempuan itu dalam menghidupi keluarga.
Namun, ia juga seorang anak yang memiliki perasaan.
Ia bisa merasakan sakit hati.. Ia bisa merasa kecewa..
Dan ia juga membutuhkan kasih sayang.
“Bu, aku mungkin bukan anak yang pintar. Aku mungkin belum bisa memberikan apa-apa untuk Ibu. Tetapi aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dengan segala keterbatasan yang kumiliki.”
“Kalau suatu hari nanti aku berhasil, orang pertama yang ingin kubahagiakan adalah Ibu. Tetapi mengapa sekarang Ibu justru menjadi orang yang paling sering membuatku menangis?”
Robert tidak pernah berani mengungkapkan semua perasaan itu secara langsung.
Ia hanya menyimpannya jauh di dalam hati, berharap suatu hari nanti ibunya akan memahami betapa besar kasih sayang yang selama ini ia berikan.
Keputusan Terberat: Mengubur Impian demi Keluarga
Setelah memikirkan keadaan keluarganya selama berhari-hari, Robert akhirnya mengambil sebuah keputusan yang sangat berat.
Ia memutuskan untuk berhenti sekolah.
Bukan karena ia malas belajar.. Bukan pula karena ia tidak memiliki cita-cita…
Robert hanya merasa bahwa dalam kondisi ekonomi keluarganya saat ini, harus ada seseorang yang mengalah agar kakak dan adiknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Dan ia memilih menjadi orang yang berkorban.
Malam sebelum mengambil keputusan tersebut, Robert duduk sendirian sambil memandangi seragam sekolah yang tergantung di belakang pintu kamarnya.
Ia teringat bagaimana dahulu dirinya begitu bersemangat ketika pertama kali mengenakan seragam SMA.
Saat itu, ia memiliki banyak mimpi.
Ia ingin menyelesaikan sekolah, melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan mengangkat derajat keluarganya.
Namun, kini semua impian tersebut terasa semakin jauh dari jangkauannya.
Robert mengambil seragam itu, memeluknya erat, lalu menangis dalam diam.
“Maafkan aku karena tidak bisa mempertahankan impian kita. Aku tahu dulu aku pernah berjanji akan terus bersekolah sampai lulus. Tapi sekarang, aku harus memilih antara masa depanku dan kebutuhan keluargaku.”
“Aku berharap Kakak dan Adik bisa menyelesaikan sekolah mereka. Aku ingin mereka memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kehidupanku sekarang.”
Dengan hati yang berat, Robert akhirnya mengikhlaskan keputusannya.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti ia bisa kembali melanjutkan pendidikan.
Ia tidak ingin selamanya hidup dalam kemiskinan.
Ia juga tidak ingin masa depannya berakhir hanya karena keadaan keluarganya saat ini.
Aku Hanya Ingin Dianggap sebagai Anak, Bukan Pembawa Sial
Pada suatu malam, Robert kembali merenungkan kehidupannya.
Di luar, hujan turun dengan deras. Suara tetesan air yang menghantam atap rumah seolah menemani kesedihan yang selama ini ia pendam sendirian.
Robert duduk di dekat jendela sambil memeluk kedua lututnya.
Ia teringat perkataan ibunya.
Anak pembawa sial.
Betapa menyakitkannya mendengar kalimat itu dari seseorang yang paling ia cintai.
Perlahan, Robert mulai berbicara kepada dirinya sendiri.
“Tuhan, mengapa Engkau melahirkanku ke dunia ini jika kehadiranku hanya dianggap membawa kesialan?”
- Aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keluarga kaya…
- Aku tidak pernah meminta kehidupan yang sempurna….
- Aku hanya ingin memiliki keluarga yang saling menyayangi, tempat aku bisa pulang ketika dunia terasa begitu melelahkan….
- Aku ingin merasakan pelukan seorang ibu ketika sedang bersedih….
- Aku ingin mendengar seorang ayah mengatakan bahwa ia bangga kepadaku….
- Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi anak yang dicintai tanpa harus selalu membuktikan bahwa diriku berguna….
Air mata kembali mengalir di pipinya
“Bu, jika aku memang anak pembawa sial seperti yang Ibu katakan, mengapa selama ini aku selalu berusaha membuat Ibu bahagia? Mengapa aku rela mengorbankan sekolahku demi keluarga kita?”
“Aku tidak pernah meminta balasan atas semua yang kulakukan. Aku hanya berharap suatu hari nanti Ibu menyadari bahwa aku juga membutuhkan kasih sayang.”
Robert mengusap air matanya dan memandangi langit yang gelap dari balik jendela.
Meski kehidupannya terasa begitu menyakitkan, masih ada satu harapan kecil yang tersimpan di dalam hatinya.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan anak pembawa sial.
Ia hanyalah seorang anak yang terlahir dalam keadaan sulit, tetapi tetap memiliki mimpi dan keinginan untuk membahagiakan keluarganya.
“Mungkin hari ini aku belum bisa menjadi anak yang membanggakan. Mungkin hari ini aku masih dianggap sebagai beban. Tetapi aku berharap suatu hari nanti Ibu bisa melihatku dan berkata bahwa Ibu bangga memiliki anak sepertiku.”
“Dan jika hari itu benar-benar datang, aku tidak akan meminta apa-apa. Aku hanya ingin memeluk Ibu dan mengatakan bahwa selama ini aku tidak pernah berhenti menyayanginya.”
Tidak Semua Anak Memiliki Rumah yang Penuh Kasih Sayang
Kisah Robert mengingatkan kita bahwa tidak semua anak memiliki masa kecil dan masa remaja yang dipenuhi kebahagiaan.
Ada anak yang harus bekerja ketika teman-temannya sedang bermain.. Ada yang harus menahan lapar karena tidak memiliki uang…Ada pula yang terpaksa mengubur impiannya demi membantu keluarga…
Dan yang paling menyedihkan, ada anak yang harus menyembunyikan air matanya sendiri karena rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi sumber luka terdalam dalam hidupnya.
Seorang anak tidak pernah bisa memilih dari keluarga mana ia dilahirkan. Namun, setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Kesulitan ekonomi bukanlah kesalahan seorang anak. Begitu pula pertengkaran dan kekerasan yang terjadi di antara orang dewasa.
Robert mungkin belum menyadarinya, tetapi pengorbanannya bukanlah bukti bahwa ia harus menanggung seluruh beban keluarganya seorang diri.
Ia juga berhak bersekolah, memiliki cita-cita, merasakan kebahagiaan, dan dicintai tanpa syarat.
Sebab, tidak ada anak yang dilahirkan sebagai pembawa sial. Tidak ada anak yang harus mengorbankan kebahagiaannya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya pantas dicintai.
“Bu, jika suatu hari nanti Ibu membaca kisah ini, aku hanya ingin Ibu mengetahui satu hal. Di balik semua senyumanku, ada begitu banyak air mata yang tidak pernah Ibu lihat. Di balik diamku, ada begitu banyak perkataan yang ingin kusampaikan. Dan di balik semua luka yang kurasakan, aku masih menyimpan harapan untuk bisa merasakan kasih sayang Ibu.”
“Aku tidak meminta kehidupan yang sempurna. Aku hanya ingin menjadi anak yang kehadirannya disyukuri, bukan disesali.”
