kisah.org Bagi warga Phnom Penh, hari itu seharusnya menjadi garis akhir dari penderitaan.

Perang saudara telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika tentara berbaju hitam yang dikenal sebagai Khmer Merah memasuki ibu kota, ribuan orang turun ke jalan.

  • Mereka bersorak.
  • Mereka melambaikan kain putih.
  • Mereka percaya bahwa perang akhirnya berakhir.
  • Mereka percaya bahwa kedamaian telah tiba.

Namun, senyuman itu hanya bertahan selama beberapa jam.

Tanpa peringatan, suasana berubah.

Tembakan terdengar di udara.

Para tentara, sebagian masih sangat muda, berteriak melalui pengeras suara dan memberikan perintah yang tidak masuk akal:

Semua penduduk harus meninggalkan rumah mereka. Sekarang juga.

  • Tidak ada pengecualian.
  • Tidak ada waktu untuk berkemas.
  • Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Alasannya terdengar mendesak.

Mereka mengatakan bahwa Amerika akan mengebom Phnom Penh.

Warga diperintahkan pergi ke desa hanya untuk tiga hari.

Tetapi tiga hari itu…

tidak pernah berakhir.

Jutaan manusia dipaksa berjalan kaki, menempuh jarak ratusan kilometer di bawah terik matahari, tanpa persiapan dan tanpa tahu ke mana mereka akan dibawa.

Orang tua yang sudah lemah ikut berjalan.

Anak-anak yang bahkan tidak memahami apa yang sedang terjadi dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Bahkan pasien yang baru menjalani operasi diseret keluar dari rumah sakit bersama tempat tidur mereka.

Ibu-ibu hamil pun tidak diberi kesempatan untuk tinggal.

Sebuah kota yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi harapan, mendadak berubah menjadi kota tanpa penghuni.

Dan ternyata…

itu baru permulaan.

 

Lahirnya Tahun Nol

Pol Pot salah satu pemimpin kejam Khmer Merah di Negara Kamboja

Di balik semua kekacauan tersebut berdiri seorang pria bernama Saloth Sar, yang dunia kemudian mengenalnya sebagai Pol Pot.

Ia adalah pemimpin tertinggi Khmer Merah.

Visinya sangat ekstrem.

Ia ingin menghapus Kamboja yang lama dan menciptakan sebuah masyarakat baru dari titik awal.

Tahun Nol.

Dalam bayangan Pol Pot, Kamboja harus kembali menjadi negara agraris yang murni.

Maka dalam waktu singkat, kehidupan modern mulai dihancurkan.

Uang dilarang digunakan.

Kepemilikan pribadi dianggap sebagai ancaman.

Sekolah, pasar, dan tempat-tempat ibadah dihancurkan atau dialihfungsikan.

Kota-kota dikosongkan.

Jutaan orang dipaksa bekerja sebagai petani dalam sistem kerja paksa massal.

Tetapi musuh terbesar revolusi ini bukan hanya senjata.

Musuh terbesar itu adalah…

paranoia.

Pol Pot dan rezimnya semakin takut terhadap pengkhianatan.

Mereka mulai mencari musuh di mana-mana.

Seseorang yang dianggap memiliki hubungan dengan dunia modern bisa dicurigai.

Seseorang yang memiliki pendidikan bisa dicurigai.

Bahkan hal-hal sederhana dapat berubah menjadi alasan untuk dituduh.

Kacamata dapat menjadi tanda bahwa seseorang dianggap intelektual.

Tangan yang tidak kasar dapat menimbulkan kecurigaan bahwa seseorang berasal dari golongan berada.

Dan bagi mereka yang dicurigai…

malam hari bisa menjadi malam terakhir dalam hidup mereka.

Seseorang dapat dijemput.

Dibawa pergi.

Dan tidak pernah kembali.

Tidak ada pengadilan.

Tidak ada kesempatan membela diri.

Hanya sebuah pintu yang diketuk pada malam hari…

lalu keheningan.

Bagi Khmer Merah, keraguan dapat dianggap sebagai pengkhianatan.

Prinsip yang berkembang di dalam rezim itu begitu dingin:

“Mempertahankanmu tidak ada untungnya. Memusnahkanmu tidak ada ruginya.”

Dari logika inilah lahir sebuah tempat yang menjadi salah satu simbol paling mengerikan dari era Khmer Merah.

Sebuah tempat untuk menangkap, menginterogasi, menyiksa, dan menghabisi mereka yang dianggap sebagai musuh.

Namanya…

S-21.

 

Di Dalam Neraka S-21

Sebuah gedung sekolah bernama Tuol Svay Prey diubah menjadi penjara.

Ruang-ruang yang sebelumnya digunakan untuk belajar berubah menjadi tempat penahanan.

Dinding-dindingnya tidak lagi menyimpan suara anak-anak belajar.

Yang terdengar kemudian adalah suara rantai.

Tangisan.

Teriakan.

Dan langkah kaki para penjaga.

Setelah gerbang S-21 tertutup di belakang seorang tahanan, ia tidak lagi masuk ke sekolah.

Ia masuk ke dalam sebuah labirin maut.

Di tempat ini, identitas manusia perlahan dihapus.

Nama tidak lagi penting.

Jabatan tidak lagi penting.

Keluarga tidak lagi penting.

Para tahanan berubah menjadi angka dalam sebuah arsip.

Mereka menjadi objek yang menunggu giliran.

Ruang kelas yang dahulu luas dan terang disekat menjadi sel-sel sempit menggunakan bata merah dan papan kayu.

Beberapa sel bahkan berukuran kurang dari dua meter.

Di sana, seorang manusia bisa dirantai ke lantai semen.

  • Tidak bisa berdiri dengan bebas.
  • Tidak bisa berjalan.
  • Tidak bisa melarikan diri.

Hanya bisa menunggu.

Menunggu suara langkah kaki penjaga.

Menunggu pintu terbuka.

Dan menunggu sesuatu yang mungkin lebih buruk daripada kematian.

Bahkan balkon gedung dipasangi kawat berduri.

Bukan untuk melindungi para tahanan…

tetapi untuk mencegah mereka mengakhiri hidup sendiri.

Rezim Khmer Merah tidak ingin tahanan mati sebelum mereka selesai mendapatkan informasi yang mereka inginkan.

Di dalam sel, waktu seolah berhenti.

Para tahanan diberikan makanan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Tubuh mereka semakin lemah.

Kelaparan menjadi bagian dari penyiksaan.

Untuk bergerak pun mereka harus meminta izin.

Salah sedikit…

hukuman menunggu.

Mereka bahkan harus menggunakan wadah sederhana di dalam sel untuk buang air.

Dan jika wadah itu tumpah…

penghinaan berikutnya menunggu.

Semua itu dilakukan untuk satu tujuan:

menghancurkan manusia sebelum tubuhnya dihancurkan.

Di dinding S-21 terdapat sepuluh peraturan keamanan.

Peraturan yang menunjukkan betapa kejamnya tempat tersebut.

Salah satunya memerintahkan tahanan agar tidak menangis ketika dipukuli atau disetrum.

Bayangkan…

seorang manusia disiksa,

tetapi bahkan tangisannya dianggap sebagai kesalahan.

S-21 bukan hanya tempat penahanan.

S-21 adalah tempat di mana waktu seperti membeku.

Tempat di mana manusia perlahan kehilangan nama, keluarga, harga diri, dan harapan.

Sampai akhirnya…

kematian justru terasa seperti satu-satunya jalan keluar.

 

Pabrik Pengakuan Palsu

Setelah tubuh dan mental tahanan dihancurkan oleh kelaparan dan kurungan sempit, mereka memasuki tahap berikutnya.

Interogasi.

Namun S-21 bukan tempat untuk mencari kebenaran.

S-21 adalah sebuah pabrik.

Dan produk yang dihasilkan pabrik itu adalah…

pengakuan.

Tidak peduli apakah pengakuan tersebut benar atau hanya karangan.

Yang penting adalah satu hal:

harus ada tanda tangan.

Setiap orang yang masuk S-21 sudah dianggap bersalah.

Tugas para interogator bukan membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah.

Tugas mereka adalah membuat tahanan mengaku sebagai mata-mata atau pengkhianat.

Korban tidak selalu berasal dari kalangan tertentu.

  • Ada guru.
  • Ada petani.
  • Ada orang biasa.

Bahkan anggota Khmer Merah sendiri bisa menjadi korban jika dicurigai berkhianat.

Mereka ditanya tentang CIA.

Tentang KGB.

Tentang jaringan mata-mata.

Padahal sebagian dari mereka bahkan tidak memahami apa yang sedang dituduhkan.

Baca juga: Kisah Inspiratif Iwan Fals di Era Orde Baru: Musik, Kritik, dan Suara Rakyat

Jika mereka tetap mengatakan tidak tahu…

penyiksaan dimulai.

Interogasi dapat berlangsung berhari-hari.

Berminggu-minggu.

Bahkan berbulan-bulan.

Tekanan fisik dan psikologis digunakan untuk memaksa tahanan memberikan jawaban yang diinginkan.

Ada pencabutan kuku.

Sengatan listrik.

Dan berbagai metode penyiksaan lainnya.

Tujuannya bukan menemukan kebenaran.

Tujuannya adalah menciptakan sebuah cerita yang bisa dimasukkan ke dalam arsip.

Dan yang paling mengerikan…

para interogator itu sendiri sering kali masih sangat muda.

Mereka direkrut dari desa dan didoktrin untuk percaya bahwa belas kasihan adalah kelemahan.

Di S-21, kebenaran tidak penting.

Yang penting adalah dokumen.

  1. Ada foto.
  2. Ada catatan.
  3. Ada pengakuan.
  4. Ada tanda tangan.

Dan ketika semua dokumen itu lengkap…

nilai hidup seorang tahanan dianggap sudah selesai.

Kertas-kertas tersebut dijilid rapi dan disimpan sebagai arsip.

Sementara manusia yang menulisnya…

bersiap menghadapi perjalanan terakhir.

Perjalanan menuju sebuah tempat yang jauh dari gedung sekolah itu.

Tempat yang kini dikenal sebagai…

Choeung Ek.

 

Sang Arsitek: Duch

Kaing Guek Eav Sang Arsitek alias  Duch

Di balik sistem S-21 terdapat seorang pria bernama Kaing Guek Eav, yang lebih dikenal sebagai Duch.

Ia adalah kepala S-21.

Namun yang membuat sosok ini begitu mengerikan bukanlah penampilannya.

Duch tidak terlihat seperti monster.

Ia justru dikenal sebagai pria yang tenang, rapi, dan teratur.

Sebelum bergabung dengan Khmer Merah, ia adalah seorang guru matematika.

Dan mungkin justru di situlah sisi paling mengerikannya.

Ia membawa cara berpikir yang teratur itu ke dalam S-21.

Bagi Duch, sistem harus berjalan dengan sempurna.

  • Setiap tahanan harus memiliki arsip.
  • Setiap pengakuan harus lengkap.
  • Setiap informasi harus dicatat.

Jika sebuah pengakuan dianggap tidak cukup detail, tahanan dapat dikembalikan untuk diinterogasi dan disiksa lagi.

Foto.

Catatan.

Pengakuan.

Perintah eksekusi.

Semuanya harus tersusun.

Seolah-olah manusia bukan manusia.

Melainkan angka dalam sebuah persamaan.

Duch juga melatih para penjaga dan interogator untuk menghilangkan rasa kemanusiaan mereka.

Ia menanamkan keyakinan bahwa musuh adalah sesuatu yang harus disingkirkan.

Bagi sistem seperti ini, kematian terlalu cepat bahkan bisa dianggap sebagai kegagalan.

Karena seorang tahanan yang mati sebelum memberikan pengakuan…

tidak lagi menghasilkan informasi.

Itulah sisi mengerikan dari birokrasi S-21.

Kematian pun dikelola seperti pekerjaan administrasi.

Pada 1979, Vietnam menginvasi Kamboja dan pemerintahan Khmer Merah runtuh.

Duch kemudian menghilang selama bertahun-tahun.

Ia bahkan kembali menjalani kehidupan sebagai seorang guru.

Namun masa lalu tidak benar-benar hilang.

Ketika akhirnya ditemukan dan dibawa ke pengadilan, Duch menjadi salah satu tokoh penting Khmer Merah yang diadili.

Di ruang sidang, ia berbicara dengan tenang.

Tidak seperti gambaran seorang monster yang mungkin ada dalam bayangan orang-orang.

Ia mengakui bahwa ia mengetahui apa yang terjadi di S-21.

Ia juga mengakui keterlibatannya dalam perintah eksekusi.

Dan pengakuan itu membawa kembali satu pertanyaan yang mengerikan:

Bagaimana seorang manusia biasa bisa berubah menjadi bagian dari mesin pembunuhan sebesar itu?

 

Perjalanan Terakhir ke Choeung EK

Ketika pengakuan seorang tahanan sudah dianggap lengkap…

hidupnya di S-21 hampir berakhir.

Biasanya ketika malam mulai turun, sebuah truk militer datang ke depan gedung.

Mesin kendaraan menyala dalam kegelapan.

Nama atau nomor tahanan dipanggil satu per satu.

Sebagian mungkin merasa lega.

Mereka diberi tahu bahwa mereka akan dipindahkan.

Mungkin ke tempat kerja lain.

Mungkin ke rumah baru.

Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketakutan, harapan kecil itu membuat mereka naik ke truk.

Tanpa mengetahui tujuan sebenarnya.

Tangan mereka diikat.

Mata mereka ditutup.

Lalu truk bergerak meninggalkan Phnom Penh.

Sekitar 15 kilometer dari kota terdapat sebuah kebun buah.

Tempat yang pada masa sebelumnya mungkin tampak biasa saja.

Namun pada masa Khmer Merah…

tempat itu berubah menjadi sesuatu yang jauh dari kata biasa.

Namanya adalah…

Choeung Ek.

Dunia kemudian mengenalnya sebagai salah satu Killing Fields.

 

Ladang Pembantaian

Malam hari.

Truk tiba.

Para tahanan diturunkan dalam keadaan mata tertutup dan tangan terikat.

Di kejauhan terdengar suara generator.

Lampu-lampu dinyalakan.

Dan musik revolusi Khmer Merah diputar melalui pengeras suara.

Bukan untuk hiburan.

Tetapi untuk menutupi suara yang terjadi di tempat itu.

Jeritan.

Tangisan.

Dan suara pukulan.

Di tengah gelapnya malam, para tahanan digiring menuju lubang-lubang besar yang telah dipersiapkan.

Senjata api dianggap terlalu mahal untuk digunakan secara sia-sia.

Maka berbagai alat lain digunakan untuk membunuh.

Alat pertanian.

Linggis.

Kapak.

Dan benda-benda lainnya.

Para korban dibawa satu per satu.

Sebagian bahkan tidak mengetahui bahwa beberapa langkah di depan mereka terdapat lubang yang akan menjadi tempat terakhir mereka melihat dunia.

Setelah tubuh-tubuh jatuh ke dalam lubang, bahan kimia seperti DDT digunakan di lokasi pembantaian.

Salah satu tujuannya adalah membantu mengurangi bau dan membunuh mereka yang mungkin masih hidup.

Namun ada satu tempat di Choeung Ek yang hingga hari ini menjadi simbol paling menyayat hati.

Sebuah pohon.

Pohon Pembunuhan.

Di tempat inilah bayi dan anak-anak kecil turut menjadi korban.

Alasan yang digunakan begitu kejam:

jika akar sebuah ancaman ingin dihancurkan…

maka seluruh akarnya harus dicabut.

  • Tidak ada yang boleh tersisa.
  • Tidak anak-anak.
  • Tidak keluarga.
  • Tidak masa depan.

Malam demi malam, proses itu berulang.

Lubang-lubang semakin penuh.

Tanah menyimpan semakin banyak jasad.

Dan kebun yang dahulu menghasilkan buah…

berubah menjadi tempat yang menyimpan kematian.

 

Tanah yang Menyimpan Suara

Hari ini, Choeung Ek bukan lagi sekadar sebidang tanah.

Ia adalah saksi.

Di bawah permukaannya terdapat kuburan-kuburan massal.

Di atasnya berdiri sebuah memorial yang menyimpan tulang-belulang para korban.

Angin masih melewati pepohonan.

Daun-daun masih bergerak ketika diterpa udara.

Tetapi bagi siapa pun yang berdiri di tempat itu dan mengetahui apa yang pernah terjadi…

kesunyian tersebut terasa berbeda.

Karena terkadang tempat paling menyeramkan bukanlah tempat yang penuh suara.

Melainkan tempat yang terlalu sunyi.

Tempat di mana ribuan manusia pernah berteriak…

namun tidak ada seorang pun yang datang untuk menyelamatkan mereka.

 

S-21 Hari Ini

S-21 kini dikenal sebagai Tuol Sleng Genocide Museum.

Gedung sekolah itu tidak lagi menjadi rahasia.

Ruang-ruang yang dahulu digunakan untuk menyiksa manusia kini menjadi saksi sejarah.

Foto-foto para tahanan masih terpampang.

Bekas-bekas kekerasan masih menjadi bagian dari bangunan.

Dan Choeung Ek berdiri sebagai pengingat tentang akhir dari perjalanan mereka.

Namun mungkin bagian paling mengerikan dari semua ini bukanlah gedungnya.

Bukan pula lubang-lubang kuburan massalnya.

Melainkan kenyataan bahwa setiap orang yang pernah berada di sana…

S-21 kini dikenal sebagai Tuol Sleng Genocide Museum.

pernah memiliki nama.

  • Mereka memiliki keluarga.
  • Mereka memiliki rumah.
  • Mereka memiliki pekerjaan.
  • Mereka memiliki impian.

Dan mereka memiliki masa depan.

Semuanya dirampas.

Dalam hitungan tahun, sebuah negara berubah menjadi tempat di mana tetangga bisa menjadi tersangka, pendidikan bisa menjadi alasan untuk dicurigai, dan sebuah ketukan di pintu pada malam hari bisa menjadi pertanda bahwa seseorang tidak akan pernah kembali.

S-21 dan Choeung Ek menjadi bukti tentang apa yang dapat terjadi ketika kekuasaan, paranoia, dan ideologi menghapus nilai kemanusiaan.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari ruang kelas…

berakhir di tanah berlumpur.

Dan ketika malam tiba di tempat-tempat itu, angin masih bergerak melewati pepohonan.

Mungkin tidak ada lagi jeritan.

Tidak ada lagi truk.

Tidak ada lagi suara langkah para penjaga.

Yang tersisa hanyalah kesunyian.

Dan di dalam kesunyian itu…

sejarah seolah berbisik:

jangan pernah lupakan nama-nama mereka.

By admin

kisah.org hadir dengan menyajikan kumpulan kisah kehidupan, cerita misteri, inspiratif, pengalaman unik, sejarah, budaya, serta berbagai informasi menarik yang layak untuk diketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *