kisah.org – Perkenalkan, namaku Lie Fang. Kali ini aku ingin menceritakan sebuah kisah horor yang aku alami sendiri. Kisah tentang sahabatku, Sugianto, yang meninggal dunia karena tenggelam.
Namun, yang membuat kisah ini terasa begitu menegangkan bukan hanya karena kematian Sugianto, melainkan juga proses pencarian jasadnya yang berlangsung dengan cara yang sangat berbeda. Selama pencarian, berbagai petunjuk aneh datang melalui mimpi yang dialami oleh aku dan kedua sahabatku.
Aku tinggal di kawasan strategis yang terletak di Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara.. Sejak kecil, aku memiliki tiga sahabat yang selalu bersamaku. Mereka adalah Linda, Johan, dan Sugianto.
Rumah kami saling berdekatan. Karena itu, hampir setiap hari kami selalu bersama. Sejak sebelum masuk sekolah hingga kami lulus SMA, kami berempat tidak pernah terpisahkan.
Setiap hari kami pergi ke sekolah bersama. Sepulang sekolah, kami biasanya bermain hingga sore. Ketika musim sekolah libur, kami selalu bermain bersama dengan menghabiskan waktu seharian.
Karena tinggal di sebuah perkampungan yang masih asri, aku dan ketiga sahabatku terbiasa menghabiskan waktu dengan menikmati alam Kampung Lalang. Kami sering bermain petak umpet, memancing, hingga mandi di sungai.
Sungai di daerah kami masih sangat bersih. Airnya jernih, sejuk, dan dingin. Suasana kampung kami juga begitu indah, sampai-sampai mampu membuat wisatawan yang datang berkunjung terpesona oleh keindahan alamnya.
Rencana Memancing
Suatu hari, kami berempat berencana pergi memancing di sebuah sungai yang cukup terkenal. Sungai itu sangat luas dan di kenal sebagai Sungai Kampung Lalang.
Di sungai tersebut juga terdapat banyak ikan. Jika sedang beruntung, pengunjung bahkan bisa melihat burung bangau menangkap ikan di sekitar sungai.
Ketika hari yang sudah kami sepakati untuk memancing tiba, tiba-tiba Sugianto mengirim pesan melalui grup Telegram yang beranggotakan kami berempat.
“Gaes, sorry ya. Hari ini aku nggak bisa ikut mancing. Soalnya ibu melarang aku keluar rumah.”
Johan kemudian membalas singkat.
“Oke, Sugi.”
Linda ikut membalas dengan candaan.
“Oke, Sugi. Jangan lupa jaga kesehatan biar cepat sembuh. Kalau kamu nggak jaga kesehatan, bisa-bisa kamu meninggal. Nanti nggak seru kalau kamu mati, kita mancing cuma bertiga.”
Linda kemudian mengirim emotikon tertawa.
Kami bertiga sebenarnya tidak mempermasalahkan Sugianto yang membatalkan janji di hari keberangkatan. Saat itu kondisi Sugianto memang belum sepenuhnya pulih. Ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah menjalani rawat inap karena terkena keracunan MBG.
Akhirnya, sekitar pukul sepuluh pagi, aku, Linda, dan Johan memutuskan tetap pergi ke sungai.
Jarak dari rumah kami ke sungai tidak terlalu jauh.
Sepanjang perjalanan, kami menghabiskan waktu dengan bercanda dan tertawa.
Sesampainya di sungai, kami mencari tempat yang teduh untuk memulai kegiatan memancing.
Namun, hari itu terasa berbeda dari biasanya.
Biasanya, setelah melemparkan kail ke sungai, kami tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan ikan. Akan tetapi, hari itu hingga pukul setengah empat sore, tidak satu ekor ikan pun berhasil kami tangkap.
Padahal, kami tahu bahwa sungai tersebut memiliki banyak ikan.
Sugianto Datang
Akhirnya, Linda menyerah karena kelelahan.
“Gaes, aku istirahat dulu ya. Lapar banget. Aku mau makan dulu.”
Linda bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tenda sederhana yang kami buat untuk meletakkan bekal makanan dari rumah.
Aku pun ikut berdiri.
“Ayo. Aku juga sudah lapar sekali.”
Linda kemudian memanggil Johan.
“Ayo, Johan. Kamu juga sekalian makan. Nanti kita lanjut lagi mancingnya.”
Namun, Johan memilih untuk tetap melanjutkan memancing.
“Kalian duluan saja. Aku masih asyik nih.”
Akhirnya, aku dan Linda memutuskan untuk makan berdua.
Saat sedang asyik makan bekal sambil bercanda, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengelus-elus kepalaku.
Saat Aku menoleh ke belakang, terkejut karena yang mengelus-elus kepalaku adalah sugianto yang sudah berdiri di belakangku.
“Sugianto! Sialan, kau bikin kaget saja!”
Sugianto tertawa melihat reaksiku.
“Wih, enak benar makan di pinggir sungai. Pasti sudah banyak dapat ikan, nih.”
Aku masih kesal karena dikagetkan.
“Ikan dari Aceh! Lihat tuh, ember masih kosong. Dari tadi kita mancing hanya dapat ciput dan ikan belum dapat apa-apa.”
Linda kemudian bertanya kepada Sugianto.
“Loh, Gi? Katanya tadi nggak dikasih keluar sama ibumu?”
Sugianto tersenyum.
“Iya, aku bosan di rumah sendirian. Tadi ibu pergi ke pasar, jadi aku susul kalian ke sini.”
Sugianto memang hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ia adalah anak tunggal, sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia sejak Sugianto duduk di kelas enam SD.
Johan yang melihat Sugianto datang akhirnya memutuskan bergabung bersama kami. Kebetulan, ia juga sudah cukup lelah memancing karena berjam-jam menunggu umpan tanpa mendapatkan satu ekor ikan pun.
“Capek sekali aku memancing.”
Linda kemudian menyahut.
“Ayo, kamu makan dulu biar nanti kita gantian.”
“Iya, nih. Aku juga mau makan. Habis makan kita bikin rakit dari batang pohon pisang yuk daripada mancing tidak ada hasil.”
Kami pun menyetujui ajakan Johan.
Rakit di Tengah Sungai
Setelah selesai makan dan beristirahat sebentar, kami berempat mencari pohon pisang untuk diambil batangnya. Kami berniat membuat sebuah rakit sederhana.
Setelah rakit selesai dibuat, kami langsung membawanya ke sungai.
Aku dan Johan bertugas memegang rakit agar tidak bergeser terlalu jauh. Sementara itu, Linda dan Sugianto berdiri di atas rakit dan bersiap melompat secara bergantian.
Setelah Linda dan Sugianto melompat, giliran aku dan Johan yang melompat, sedangkan Linda dan Sugianto bertugas memegang rakit.
“Satu… dua… tiga!”
Linda menghitung sambil tertawa, kemudian melompat ke sungai.
Sekarang giliran Sugianto.
Ia berdiri di atas rakit dan mulai menghitung seperti yang dilakukan Linda.
“Satu… dua… tiga!”
Sugianto melompat ke dalam sungai.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi.
Sugianto tidak muncul ke permukaan.
Awalnya kami mengira dia hanya sedang bercanda.
“Sugianto! Ayo cepat naik! Aku dan Lie Fang juga ingin melompat. Sekarang giliran kami!”
Johan mulai memanggilnya.
Aku pun ikut berteriak.
“Sugianto! Ayo! Nanti keburu magrib!”
Beberapa menit berlalu.
Awalnya kami masih merasa biasa saja. Namun, semakin lama Sugianto tidak muncul ke permukaan, rasa panik mulai menghampiri kami.
Aku, Johan, dan Linda segera menyelam untuk mencarinya.
Padahal, bagian sungai tempat kami bermain sebenarnya tidak terlalu dalam. Airnya hanya setinggi dada kami. Rasanya hampir tidak mungkin Sugianto tenggelam di tempat seperti itu.
Namun, setelah beberapa kali menyelam dan mencari ke berbagai arah, kami tetap tidak menemukan Sugianto.
Pencarian Dimulai
Akhirnya, azan magrib terdengar.
Kami memutuskan untuk pulang dan meminta bantuan warga kampung.
Aku dan Linda bergegas menuju rumah Sugianto untuk memberi tahu ibunya. Sementara Johan pergi menuju rumah kepala desa untuk meminta bantuan warga mencari Sugianto di sungai.
Sesampainya di depan rumah Sugianto, kami melihat ibu Sugianto sudah berdiri di dekat pagar dengan wajah penuh kecemasan.
Begitu melihat aku dan Linda, beliau langsung berlari menghampiri kami.
“Lie Fang, Linda… kalian ada melihat Sugianto, Nak? Sugianto tidak ada di rumah, padahal dia belum sembuh betul.”
Aku tidak mampu menjawab pertanyaannya.
Melihat kepanikan di wajah ibu Sugianto, aku langsung menangis. Aku bahkan tidak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat aku dan Linda menangis, ibu Sugianto seakan langsung menangkap firasat buruk tentang anaknya.
Beliau ikut menangis. Tubuhnya mulai melemas dan akhirnya jatuh pingsan.
Aku dan Linda panik melihat beliau pingsan.
Kami segera berteriak meminta pertolongan kepada tetangga.
Kebetulan, Pak Ginting yang rumahnya berada di sebelah rumah Sugianto keluar setelah mendengar teriakan kami.
“Astaga! Ada apa ini, Nak? Ibu kenapa?”
Pak Ginting segera mengangkat ibu Sugianto dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Setelah ibu Sugianto dibaringkan di sofa ruang tamu, Linda menceritakan semua yang terjadi di sungai sambil menangis.
Setelah mendengar cerita tersebut, Pak Ginting dan beberapa warga lainnya segera kembali ke sungai untuk mencari Sugianto.
Aku dan Linda juga ikut kembali ke sungai, sementara ibu Sugianto ditemani oleh istri dan anak perempuan Pak Ginting.
Sesampainya di sungai, sudah ada Johan, kepala desa, dan beberapa warga lainnya.
Malam itu, sungai yang biasanya sepi mendadak dipenuhi warga yang ikut mencari Sugianto.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi pencarian belum membuahkan hasil.
Akhirnya, kepala desa meminta aku, Linda, dan Johan untuk pulang karena kondisi kami bertiga sudah basah kuyup dan kelelahan.
Kami pulang diantar oleh beberapa warga, sementara pencarian Sugianto tetap dilanjutkan.
Mimpi Lima Ketukan
Sesampainya di rumah, aku melihat ayah dan ibuku sudah mondar-mandir di teras.
Mereka terlihat sangat khawatir karena hari sudah malam dan aku belum juga pulang.
Begitu melihatku pulang dalam keadaan basah kuyup, ayah langsung bertanya kepada warga yang mengantarku.
“Apa yang terjadi, Pak?”
Salah seorang warga menjawab,
“Sebaiknya Lie Fang disuruh istirahat dulu, Pak. Nanti bisa masuk angin.”
Ibu langsung merangkulku dan membawaku masuk ke rumah untuk mengganti pakaian dan beristirahat. Sementara ayah berbicara dengan warga yang mengantarku.
Di dalam kamar, aku hanya bisa menangis sambil terus memikirkan keadaan Sugianto.
Tidak lama kemudian, pintu kamarku diketuk.
Ayah dan ibu masuk lalu duduk di samping ranjang.
“Yang sabar, Nak. Kita doakan Sugianto supaya cepat ditemukan dalam keadaan selamat.”
Ibu memelukku erat.
Ayah kemudian berkata,
“Ayah sudah meminta bantuan teman ayah di Basarnas untuk mencari Sugianto. Besok pagi-pagi sekali mereka akan mulai melakukan pencarian.”
Ayah dan ibu memang bekerja sebagai tenaga medis. Mereka juga sering mengikuti kegiatan sosial untuk membantu masyarakat.
Keesokan paginya, pencarian Sugianto kembali dimulai sejak pukul tujuh.
Tim Basarnas, polisi, dan tentara ikut membantu pencarian. Tidak ketinggalan, seluruh warga kampung juga ikut mencari.
Namun hingga pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda keberadaan Sugianto.
Pencarian semakin terasa berat. Harapan untuk menemukan Sugianto dalam keadaan hidup pun semakin kecil.
Aku dan Linda tidak henti-hentinya menangis. Kami hanya bisa berdoa agar Sugianto segera ditemukan.
Hari kedua pencarian pun tiba.
Namun, tanda-tanda keberadaan Sugianto masih belum ditemukan.
Ibu melarangku pergi ke sungai untuk ikut mencari karena kondisi tubuhku mulai tidak sehat akibat kelelahan.
Hari itu aku lebih banyak beristirahat di kamar.
Karena kelelahan dan setelah minum obat, aku tertidur lelap.
Di dalam tidur, aku bermimpi.
Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari sebuah pintu.
“Tok… tok… tok… tok… tok…”
Lima kali.
Setelah itu, semuanya hening.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan itu kembali terdengar.
“Tok… tok… tok… tok… tok…”
Aku terbangun dengan perasaan aneh.
Namun, mimpi itu tidak berhenti sampai di sana.
Lima hari telah berlalu. Pencarian Sugianto masih terus dilakukan, tetapi mimpi tentang lima ketukan itu terus berulang.
Anehnya, setiap kali aku bermimpi, semuanya selalu sama.
Tempatnya sama.
Suasananya sama.
Bahkan jam dinding yang terlihat dalam mimpi juga menunjukkan waktu yang sama.
Pada hari kelima, aku memberanikan diri untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang mengetuk pintu.
Dalam mimpi itu, aku perlahan berjalan menuju jendela.
Tanganku gemetar ketika membuka tirai.
Aku mengintip ke arah pintu yang sejak beberapa hari terakhir selalu diketuk lima kali.
Betapa terkejutnya aku.
Di depan pintu berdiri sosok Sugianto.
Tubuhnya berdiri kaku.
Wajahnya pucat.
Tatapannya kosong.
Ia kembali mengetuk pintu.
Aku menangis sambil memanggil namanya.
“Sugianto…”
Kemudian, dari kejauhan, aku mendengar suara Sugianto yang terdengar sangat lirih.
“Tolong… bantal ku.”
Mimpi yang Sama
Aku langsung terbangun.
Ternyata ibu sedang membangunkanku karena aku harus pergi ke kampus.
Sudah beberapa hari aku tidak masuk kuliah karena terus memikirkan keadaan Sugianto. Selain itu, kondisi tubuhku juga belum sepenuhnya sehat.
Sesampainya di kampus, aku langsung masuk ke kelas.
Di sana sudah ada Johan dan Linda yang sedang duduk sambil berbicara.
Aku segera bergabung dengan mereka.
Sambil menunggu dosen datang, aku menceritakan mimpi yang selama lima hari terakhir terus menghantuiku.
Namun, betapa terkejutnya aku ketika Johan dan Linda mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
Mereka juga mengalami mimpi yang sama.
Selama lima hari berturut-turut, mereka mengalami mimpi tentang lima ketukan yang sama.
Tempatnya sama.
Suasananya sama.
Bahkan kejadian dalam mimpi mereka juga sama persis denganku.
Pada malam kelima, mereka juga memberanikan diri melihat siapa yang mengetuk pintu.
Dan sosok yang mereka lihat adalah Sugianto.
Lebih mengejutkan lagi, kalimat yang mereka dengar juga sama.
“Tolong… bantal ku.”
Kami bertiga terdiam.
Tidak ada satu pun dari kami yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Akhirnya, kami sepakat bahwa setelah mata kuliah terakhir selesai, kami akan pergi ke rumah Sugianto dan menceritakan semua mimpi tersebut kepada ibunya.
Petunjuk Terakhir
Sesampainya di rumah Sugianto, ibu Sugianto langsung memeluk kami.
Sejak kecil, kami berempat memang sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya.
Di dalam pelukan ibu Sugianto, aku, Johan, dan Linda menangis sejadi-jadinya.
Suara tangisan kami bahkan terdengar sampai ke rumah tetangga.
Beberapa tetangga yang mendengar kemudian datang untuk menenangkan kami.
Setelah keadaan mulai tenang, kami menceritakan semua mimpi yang kami alami kepada ibu Sugianto.
Begitu mendengar cerita kami, ibu Sugianto tiba-tiba berlari menuju kamar Sugianto.
Ia mengambil bantal kesayangan anaknya.
Kemudian, beliau meminta kami pergi ke sungai untuk membantu pencarian Sugianto.
Sementara itu, ibu Sugianto bersama Pak Ginting pergi menemui Mbah Sinin.
Di kampung kami, Mbah Sinin dikenal sebagai seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dunia lain.
Karena itulah, ibu Sugianto meminta bantuan Mbah Sinin untuk mengartikan mimpi yang dialami aku, Linda, dan Johan.
Singkat cerita, aku dan kedua sahabatku sudah kembali berada di sungai.
Kami berdoa bersama agar Sugianto segera ditemukan.
Hari mulai sore
Jam menunjukkan sekitar pukul lima.
Ketika aku dan Linda hendak pulang, tiba-tiba ibu Sugianto datang bersama Pak Ginting.
Di tangan ibu Sugianto terdapat bantal milik Sugianto.
Wajahnya terlihat penuh kepanikan.
Ia langsung menghampiri Johan.
“Katakan! Di mana tempat anakku tenggelam terakhir kali?”
Ibu Sugianto bahkan mengguncang tubuh Johan karena begitu ingin mengetahui lokasi terakhir Sugianto terlihat.
Pak Ginting segera berusaha menenangkannya.
“Bu, tenang dulu. Biar saya yang menjelaskannya.”
Ibu Sugianto akhirnya menyerahkan bantal milik Sugianto kepada Pak Ginting. Setelah itu, beliau dibawa ke posko agar bisa menenangkan diri.
Pak Ginting kemudian menjelaskan kepada kami.
“Begini, Nak. Tadi Mbah Sinin meminta agar bantal Sugianto diletakkan di tempat terakhir kali Sugianto tenggelam.”
Johan dan Pak Ginting kemudian berjalan menuju lokasi tempat terakhir kali Sugianto melompat dari rakit.
Sesampainya di sana, Pak Ginting meletakkan bantal milik Sugianto di atas permukaan air.
Awalnya tidak terjadi apa-apa.
Namun beberapa detik kemudian…
Bantal tersebut tiba-tiba tenggelam.
Bukan perlahan seperti benda yang terkena air.
Bantal itu seolah-olah tersedot ke dalam sungai.
Warga yang melihat kejadian tersebut langsung terdiam.
Tak lama kemudian, muncul gelembung-gelembung dari dalam air.
Semakin lama, jumlah gelembung itu semakin banyak.
Johan, Pak Ginting, dan beberapa warga yang berada di dalam sungai segera menyingkir.
Kemudian, sesuatu yang membuat semua orang terpaku terjadi.
Perlahan-lahan, jasad Sugianto muncul ke permukaan air.
Kami semua terkejut.
Setelah lima hari berada di dalam sungai, jasad Sugianto akhirnya ditemukan.
Yang lebih membuat kami merinding, jasadnya ditemukan dalam keadaan masih utuh.
Pencarian yang selama berhari-hari dilakukan akhirnya berakhir.
Jasad Sugianto kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan.
Akhirnya, Sugianto dapat dimakamkan dengan layak.
Sejak hari itu, aku, Linda, dan Johan tidak pernah lagi melupakan sahabat kami.
Namun sampai sekarang, setiap kali mengingat lima ketukan itu…
“Tok… tok… tok… tok… tok…”
aku selalu teringat pada satu hal.
Mungkin, itulah cara terakhir Sugianto memberi tahu kami di mana ia berada.
Dan mungkin, pesan terakhirnya memang hanya satu…
