Di Manakah Dewa atau Tuhan Saat Anak-Anak Menangis? – Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah Dewa atau Tuhan benar-benar ada? Jika Dia memang ada, di manakah Dia berada? Bagaimana kita bisa mengetahui keberadaan-Nya?
Dan jika Dia benar-benar melihat segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, apakah Dia juga melihat air mata anak-anak yang menangis dalam kesunyian, bahkan ketika mereka sendiri belum memahami mengapa kehidupan terasa begitu menyakitkan?
Percayakah kalian bahwa di dunia ini ada Dewa atau Tuhan?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut menyimpan begitu banyak keraguan, pencarian, dan luka yang tidak pernah benar-benar terungkap.
Ada orang-orang yang percaya bahwa Dewa atau Tuhan benar-benar ada. Mereka meyakini bahwa Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil. Mereka percaya bahwa setiap kejadian memiliki alasan, bahwa setiap penderitaan memiliki makna, dan bahwa tidak ada satu pun air mata yang luput dari pandangan-Nya.
Namun, ada pula orang-orang yang mulai mempertanyakan keyakinannya ketika melihat begitu banyak penderitaan di dunia. Mereka menyaksikan ketidakadilan, kemiskinan, kelaparan, peperangan, dan anak-anak yang harus menanggung kesedihan yang bahkan tidak mereka mengerti.
Ada orang-orang yang tetap berdoa setiap malam, memohon pertolongan dengan penuh harapan. Namun, jauh di dalam hati mereka, tersimpan pertanyaan yang terus menghantui: mengapa begitu banyak penderitaan yang seolah-olah tidak pernah berakhir?
Jika Tuhan Maha Pengasih, mengapa masih ada anak-anak yang menangis tanpa pelukan?
Jika Tuhan Maha Penyayang, mengapa ada bayi yang harus merasakan dinginnya dunia sebelum sempat merasakan hangatnya kasih sayang?
Dan jika Tuhan melihat segala sesuatu, apakah Dia juga melihat anak-anak yang menangis diam-diam, memanggil seseorang yang tidak pernah datang, dan menunggu pertolongan yang tidak pernah mereka pahami mengapa tak kunjung tiba?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban yang mudah. Namun, terkadang, pertanyaan paling menyakitkan justru lahir ketika kita melihat penderitaan mereka yang sama sekali tidak bersalah.
- Mereka adalah anak-anak kecil yang belum memahami arti kehidupan, tetapi sudah harus merasakan pahitnya kenyataan.
- Mereka belum mengenal kebencian, tetapi telah menjadi korban kebencian orang dewasa.
- Mereka belum memahami arti kehilangan, tetapi sudah kehilangan orang-orang yang seharusnya mencintai dan melindungi mereka.
- Mereka belum sempat mengenal indahnya dunia, tetapi dunia telah lebih dahulu memperlihatkan sisi paling kejamnya.
Lalu, di manakah Dewa atau Tuhan ketika anak-anak itu menangis?
Anak-Anak yang Tidak Pernah Meminta Dilahirkan
Bayangkan seorang bayi yang baru saja hadir ke dunia.
Tubuhnya begitu mungil. Jari-jarinya begitu kecil. Matanya perlahan terbuka, seolah-olah sedang mencoba mengenali kehidupan yang baru saja menyambutnya.
Tangisannya terdengar lirih, memecah kesunyian malam.
Ia menangis karena lapar. Ia menangis karena kedinginan. Ia menangis karena membutuhkan kehangatan dari seseorang yang bisa membuatnya merasa aman.
Namun, tidak ada pelukan yang menyambutnya.
Tidak ada suara lembut yang menenangkannya.
Tidak ada tangan yang dengan penuh kasih mengusap tubuh mungilnya dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Orang yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung justru meninggalkannya. Ia dibuang, diabaikan, atau dibiarkan menghadapi dunia tanpa perlindungan, seolah-olah kehadirannya tidak pernah memiliki arti.
Namun, dunia terus berjalan.
Orang-orang menjalani kesibukan mereka. Kendaraan berlalu-lalang. Lampu-lampu rumah tetap menyala. Banyak orang tertawa, makan bersama keluarga, dan tidur dalam kehangatan.
Sementara itu, di suatu tempat yang mungkin tidak diketahui siapa pun, seorang anak kecil menangis tanpa tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan.
Betapa menyakitkannya membayangkan seorang manusia yang baru saja memulai kehidupan harus merasakan kesepian bahkan sebelum ia mengenal arti kehilangan.
- Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
- Ia tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya.
- Ia tidak pernah meminta untuk hadir dalam keluarga yang tidak siap menerima keberadaannya.
Lantas, mengapa ia harus menanggung akibat dari keputusan orang dewasa?
Dilahirkan untuk Menderita
Tidak semua anak memiliki kesempatan untuk menikmati masa kecil.
Bagi sebagian anak, masa kecil adalah masa ketika mereka belajar tertawa, bermain bersama teman-teman, berlari mengejar layang-layang, dan pulang ke rumah dengan wajah penuh kebahagiaan.
Namun, bagi sebagian lainnya, masa kecil hanyalah perjuangan panjang untuk bertahan hidup.
Ketika anak-anak lain menangis karena mainan kesayangan mereka rusak, ada anak yang menangis karena tidak memiliki makanan untuk mengisi perutnya.
Ketika anak-anak lain mengeluh karena harus bangun pagi untuk pergi ke sekolah, ada anak yang bangun lebih awal untuk bekerja demi mendapatkan uang, sekadar agar hari itu mereka bisa makan.
Tubuh mereka masih kecil. Bahu mereka belum cukup kuat. Hati mereka masih terlalu polos untuk memahami betapa kerasnya kehidupan.
Namun, keadaan memaksa mereka tumbuh sebelum waktunya.
Tangan yang seharusnya memegang pensil harus memegang alat kerja.
Kaki yang seharusnya berlari mengejar teman-temannya harus berjalan jauh mencari nafkah.
Dan ketika malam tiba, saat anak-anak lain terlelap dalam kehangatan rumah, apakah anak-anak itu juga memiliki tempat yang aman untuk memejamkan mata?
Ataukah mereka harus tidur dengan perut kosong, tubuh menggigil, dan hati yang dipenuhi ketakutan tentang apa yang akan terjadi esok hari?
Mungkin, sebelum tertidur, ada satu pertanyaan sederhana yang muncul dalam hati mereka.
“Mengapa hidupku tidak seperti anak-anak lainnya?”
Pertanyaan itu mungkin tidak pernah mereka ucapkan.
Sungguh menyedihkan ketika seorang anak harus mengenal penderitaan sebelum sempat mengenal kebahagiaan.
Apakah Semua Ini Disebut Karma?
Sering kali, ketika melihat seseorang mengalami penderitaan, kita mendengar orang berkata bahwa semuanya adalah takdir atau karma.
Namun, jika seorang anak dilahirkan dalam penderitaan, apakah itu juga kesalahannya?
Seorang bayi belum memahami baik dan buruk. Ia belum mengerti bagaimana dunia bekerja. Ia belum mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah. Ia bahkan belum memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Jika semua kesedihan yang dialaminya disebut takdir, apakah itu berarti kita harus diam dan membiarkannya terus menderita?
Jika semua penderitaan dianggap sebagai karma, apakah kita boleh menutup mata ketika melihat seorang anak kelaparan, ketakutan, atau ditinggalkan?
Aku tidak tahu bagaimana cara kerja karma. Aku juga tidak mengetahui mengapa kehidupan seseorang bisa begitu berbeda dari kehidupan orang lain. Namun, ada satu hal yang sulit diterima oleh hati: seorang anak tidak seharusnya dipaksa membayar harga dari kesalahan yang bukan miliknya.
Ia tidak memilih siapa orang tuanya. Ia tidak memilih tempat kelahirannya. Ia tidak mengerti apakah ia akan dicintai atau ditinggalkan.
Namun, sejak hari pertama kehidupannya, ia sudah harus menerima segala sesuatu yang tidak pernah ia minta.
Jika memang ada keadilan di alam semesta ini, mengapa begitu banyak anak harus memulai hidup dengan penderitaan yang begitu berat?
Mengapa ada anak yang dilahirkan dengan segala kecukupan, sementara anak lainnya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan makanan yang layak?
Tidak ada jawaban yang bisa ia pahami. Tidak ada penjelasan tentang mengapa hidupnya harus seperti itu.
Lalu, di manakah Dewa dan Tuhan ketika anak itu menangis?
Aku tidak mengatakan bahwa Dewa dan Tuhan tidak ada. Aku juga tidak memiliki jawaban pasti tentang keberadaan-Nya. Namun, ketika melihat penderitaan anak-anak yang tidak bersalah, sulit untuk tidak bertanya.
- Jika Dewa dan Tuhan Maha Pengasih, mengapa begitu banyak anak harus hidup tanpa kasih sayang?
- Jika Dewa dan Tuhan Maha Penyayang, mengapa ada anak yang tidak pernah merasakan hangatnya pelukan keluarga?
- Jika Dewa dan Tuhan Maha Adil, mengapa sebagian anak lahir dalam kenyamanan, sementara sebagian lainnya bahkan harus berjuang hanya untuk bertahan hidup?
- “Jika aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan, mengapa aku harus menanggung begitu banyak penderitaan hanya untuk tetap hidup?”
Namun, selama masih ada anak yang menangis karena kesepian, selama masih ada anak yang kelaparan, dan selama masih ada anak yang ditinggalkan tanpa perlindungan, semoga kita tidak pernah berhenti bertanya.
Bukan semata-mata untuk menyalahkan Dewa ataupun Tuhan.
Bukan pula untuk memaksa semua orang memiliki keyakinan yang sama.
Melainkan agar kita tidak pernah kehilangan kemanusiaan di tengah dunia yang begitu sering membuat orang-orang tak bersalah menderita.
